Showing posts with label catatan kecil. Show all posts
Showing posts with label catatan kecil. Show all posts

Tuesday, April 17, 2012

Serba Serbi Jilbab Trendi

Sebenernya, kalau mau ngomongin soal jilbab, mau ngga mau, setuju atau ngga setuju, cara berjilbab wanita muslim yang syar'i yaa yang gombrong, tidak membentuk lekuk tubuh, dan yang diperbolehkan tampak yaa cuma sebatas wajah dan telapak tangan. Tapi gw lagi ngga mau ngomongin soal itu di sini. Sebab gw akuin, cara gw berbusana juga masih belom bener-bener amat. Masih belum konsisten sama role-model yang diajarkan sama Qur'an.. Tapi insya Allah, gw tetap memegang konsep berbusana yang benar, yang syar'i, dan sesuai Qur'an yaa seperti yang gw bilang di atas tadi, tanpa perlu beradu argumen mencari pembenaran dari cara gw berpakaian. Itu yang gw yakinin bener, dan kalaupun penampilan gw sekarang belum ngerefleks kesitu, excuse gw cuma satu, I'm on my way.. :) let me take my time..

Gw cewek. Islam. Dan alhamdulillah sudah berjilbab sejak Januari 2009. Selama hampir empat tahun, gaya berjilbab gw monoton-monoton aja. Cuma pake jilbab segi empat yang gw lipat segitiga jadi dua, di jepit, terus udah. Kadang malah cuma pake bergo aja malahan. Dasarnya sih emang gw kagak begitu interest sama fesyen. Tapi gw suka mengamati dan komen-komen iseng sendiri kalau merhatiin budaya berbusana muslim yang lagi digandrungi muslimah2 Indonesia sekarang ini.. Positif nya, dengan busana muslim yang trendi dan fesyenebel, banyak wanita muslimah yang kemudian memutuskan berjilbab. Yang sudah berjilbab dari dulu pun bisa makin gaya dan menarik.. tapi negatifnya? Pernah kepikiran gak?

Di lingkungan sekitar gw, baik datangnya dari tetangga, keluarga, maupun temen-temen gw, banyak dari mereka yang suka tampil cantik dengan bergonta-ganti model dan gaya berpakaian. Mulai dari pakaian plus atribut-atributnya.. Jilbab.. hehe

Pertama-tama gini, gw menilai diri gw sendiri sebagai orang yang tidak gandrung pada fesyen, bukan shopaholic, dan cenderung mudah merasa nyaman dengan dandanan gw yang simpel dan biasa-biasa aja. Beberapa waktu lalu gw sempat tertegun ketika gw membuka lemari pakaian gw. Ternyata sudah penuh sesak. Banyak pakaian dan kerudung yang ternyata jarang buangett dipake. Tiba-tiba aja gw jadi inget sama adek gw, temen-temen gw dan ngebayangin kalau gw jadi mereka. Gw yang ga hobi fesyen dan belanja aja bisa segini penuh isi lemarinya, gimana mereka yaa? Ini baru soal pakaian, belum lagi kalau gw tambahin dengan alat make-up.. BB.. beghel.. mobil.. atau life style yang lainnya..

Mahal banget yaah jadi cewek. Kalau masalah mahal atau ngga mahal, itu sih balik lagi ya ke urussan kita masing-masing. Kalau kita mampu, so what? Kalau kita bisa bersenang-senang dengan hal itu, so what? Yaa pada akhirnya memang semua itu bukan urusan gw.. Whatsoever mereka mau ngapain yaa.. Cuman kok ya rasanya, gw turut berbela sungkawa aja dengan budaya konsumtif yang menjamur di masyarakat kita sekarang ini. Coba dibuat itung-itungan sendiri deh, berapa banyak sih kita abisin uang untuk belanja? Untuk beli pernak pernik kerudung? beli make-up, gonta-ganti gadget, atau sesuatu yang sebetulnya bukan kebutuhan primer kita.. nah, kalo udah ada hasilnya, suka berasa nyesel ngga sih? karena menyadari hal ini, gw jadi berencana untuk buat resolusi kecil-kecilan untuk ngga belanja baju selama minimal dua bulan.. dan gw jadi lebih salut dengan orang-orang yang sering gw dapati memakai sepatu yang itu-itu aja.. atau pakaian yang itu-itu aja.. ternyata dengan perspektif yang berbeda, mereka justru keliatan lebih keren.. salam

Sunday, April 15, 2012

Opera Sabun di Toko Roti

Assalamu'alaikum... Wilujeng enjing sadayanaa..

Kemarin. Persis. Ada kejadian menarik di toko roti Bread Talk di Plaza Semanggi. Begini ilustrasinya. Ada seorang bapak-bapak, lagi mau beli roti sama anaknya, sebut saja Bambang namanya (Bukan nama sebenarnya). Dari awal, keberadaan pak Bambang ini sudah cukup mengundang perhatian saya.. dengan nada suara yang agak tinggi, dia menyeru pada anaknya yang perkiraan saya berusia sekitar 9 atau sepuluh tahun, anak laki-laki.
"Ayo ambil nampan nya itu!! Ambil jepitnya juga!! Ayo belajar ngambil sendiri! Pilih sendiri!"
mungkin ini ceritanya si pak Bambang ini mau ngajarin anaknya biar jadi berani dan mandiri. Tapi kok yah ekspresi yg ditunjukkan si anak kok malah jadi seperti ketakutan yaah.. Saya pun berlalu ke antrian kasir untuk membayar roti yang saya beli.

Ada dua kasir di Bread Talk semanggi itu, tapi sepertinya kasir 1 lagi ke toilet atau lagi ada urusan di dapur, saya kurang ngerti. Tapi saat itu yang available cuma kasir 2 saja. Jadilah para pembeli mengantri di kasir 2 semua. Kasir 2 sedang menghitung roti dua orang mas-mas dua antrian di depan saya. Kebetulan saat itu, kasir 1 sudah kembali dari kperluannya, dan mempersilakan antrian yang ada di depan saya, "Silakan dik.. bayar disebelah sini.." .

Nah, karena kasir 1 sudah available.. antrian paling belakang di kasir 2 langsung pindah antrian ke Kasir 1 dan langsung dilayani. Agaknya pak Bambang yang ternyata mengantri di belakang saya tampak gusar melihat keadaan itu. Dia merasa antriannya sudah di salip dan diperlakukan tidak fair. Kebetulan pada saat yg bersamaan, giliran saya membayar tiba dan saya lupa meletakkan penjepit di tempat yg sudah disediakan. Sambil menunggu roti saya dibungkus dan dihitung, reflek saya berbalik badan untuk meletakan penjepit roti ke tempatnya yang ternyata berada di sebelah pak Bambang, tiba-tiba saja dia bicara pada saya..

"Buat apa kamu taro penjepit itu disitu? Kasih ke kasir aja! Itu kan tugas mereka!! Kenapa kamu diem aja di salip antriannya?! Bla bla bla bla" Pak Bambang mulai meracau tidak jelas pada saya. Saya speechless dibegitukan. Cuma membalasnya dgn senyum-senyum sekenanya saja. Saya tidak menghiraukannya dan langsung beranjak pergi begitu selesai.. sambil jalan saya mendengar Pak Bambang melanjutkan aksi ngamuk-ngamuknya pada si kasir..

"INI ANTRIANNYA GIMANA SIIIH? SAYA UDAH NGANTRI DARI TADI KOK DIA DULUAN YG DILAYANIN!! INI GIMANA SISTEM NGANTRI YANG SEBENERNYA SIIH... HEH!! ANAK SAYA SUDANH NUNGGU ITU DI SANA DARI TADI YAA!! ANAK SAYA ITU LEBIH PENTING DARI KALIANNN!!" Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah kasir dan membanting nampan... Astaghfirullah.. sampai di pintu keluar pun adegan marah-marah itu masih berlanjut, dan saya tidak menyaksikan akhir pertunjukkannya... ck ck ck..

Sunday, February 5, 2012

a new start

I've promised myself to do various things this year. I started to prepare myself for a scholarship program application. Today, I've spent seven hours to write down a page of an essay. I don't know that write seriously in English could be this difficult. But I made it. At least. Even though only for one page. I did it..

There are three more essays left to write.. I'll continue next time.. Off to bed -- Pengelana Makna

Monday, January 30, 2012

Happy Belated New Year

Seems it's been a while I didn't visit this site. Many things happened in my life.. Good things and bad things passed me by.

First of all, I'm going to greet you all a Blast Happy New Year 2012. In my personal idea, 2011 was a really great year in my life..

My plan to get resigned was cancelled.. I postponed my plan to work abroad in next several months, to be exact, when I got the chance of course :D Feel like I've never been ready enough to do so.. so scared and not confidence..

And about my love-life.. this thing is the most interesting part for me. Finally, after years, after once I didn't let myself to have a start with him, the one I've always wanted to be my mate, I found my courage to ask him to be my boyfriend.. I was so ashamed that time.. Really. it wasn't what a girl like me does, make a shot to someone.

Now, we've been together as an item for five months. It's just amazing to not have a real fight at all for five months. We probably don't talk much.. We only meet once a week.. Also we don't text a lot.. At some points, it kind of weird. But that's the way we live this relationship and we feel comfortable with it..

But still.. I don't wanna say I love him, yet. I don't know. Five months , it's just too early to define these feelings as a love. All I can say, I feel completed for having him by my side. I just don't need to be someone else every time he's around. And for you guys outside, I'm sorry to say.. I'm no longer available now.. I'm taken.. :P

Friday, July 8, 2011

Langkah Pertama


Tidak terjadi sebuah perjalan tanpa diawali langkah pertama. Tak perlu terlalu besar, cukup sejengkal. Namun tahukah, sekedar untuk memulai sejengkal langkah pertama untuk sebuah perjalanan luar biasa, kita memerlukan keberanian yang besar, pertimbangan yang matang, dan iman. Bukan hanya iman pada Tuhan, tapi keimanan --keyakinan-- pada perjalanan yang baru saja akan kita mulai. Dan di sinilah, saya akan memulai sebuah chapter perjalanan yang merupakan bagian kecil dari perjalanan panjang hidup saya. Saya menyebutnya, himpunan perjalanan.

Adalah mimpi salah seorang sahabat saya yang ingin bertandang ke Baitullah Makkah bersama ibundanya. Subhanallah. Saya pun jadi ikut-ikutan memimpikan hal yang sama dengannya. Latah yang tidak umum memang kedengarannya. Tapi memang begitulah adanya. Menunaikan ibadah UMRAH lantas kemudian menjadi salah satu resolusi pencapaian saya di tahun 2011 ini.

Hidup yang saya alami begitu rumit tahun-tahun terakhir ini. Serumit apa? Tak perlulah dibayangkan. Toh setiap kerumitan itu sifatnya relatif. Hanya saja, untuk seporsi yang saya nikmati saat ini, cukup membutuhkan upaya keras untuk menjejalkannya pada 'mulut' saya, pelan-pelan dan harus sangat hati-hati mencernanya, mencoba bisa merasakan khasiatnya agar tidak menjadi feces begitu saja. Haha..ngelantur. Rasa sakit itu (red: kerumitan, kesulitan), selagi tidak mematikan, ia akan menguatkan. Sama seperti obat, pahit, tapi bisa jadi jalan menyembuhkan. Demikian, salah satu niatan saya menjalankan ibadah UMRAH. Saya hendak mencari kekuatan di sana. Memanjatkan puji syukur ritual penghambaan saya pada Allah sebagai Tuhan yang saya sembah. Saya ingin bermunajat di sana. Bukan mengharapkan penghidupan yang lebih mudah, tapi keteguhan hati yang kuat untuk bisa melalui apa pun bentuk ujian dalam hidup itu nantinya. Saya sadari saya ini lemah iman. Grafik keimanan saya terus berfluktuasi, dan saya khawatir, gradiennya semakin miring ke bawah. Iman itu abstrak, tidak tampak.

NIAT. Itu adalah awal dari langkah pertama saya. Tiba-tiba saja, niat bisa menjadi sangat berat ketika saya ragu-ragu untuk melangkah. Banyak sekali polemik yang bergelayut di hati dan pikiran saya. Pertama, semula saya berencana berangkat umrah selepas teman saya mengembalikan uang yang dipinjamnya dari saya beberapa waktu lalu. Jumlahnya lumayan cukup besar. Hampir separuh dari biaya umrah itu sendiri. Tapi ternyata, untuk polemik pertama, tidak bisa sesuai rencana. Saya bimbang. Tapi pada akhirnya, mumpung masih muda dan dikaruniai rejeki, saya putuskan untuk menggunakan tabungan yang saya miliki. Tidak sampai di situ, cuaca di kota Mekkah sana yang bisa mencapai 50 derajat celcius pada siang hari membuat saya bimbang lagi. Melebihi panasnya tempat sauna. Yaa Allah.. Bagaimana di sana nanti ya. Saya sempat terpikir untuk menunda keberangkatan saya tahun depan saja. Sekali lagi saya berpikir keras. Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah. Kita adalah tamu-Nya. Allah yang akan menjamu kita. Bisa saja derajat suhu menunjukkan angka lima puluh, tapi bukan hal yang susah bagi Allah untuk membuat kita tetap merasa sejuk di rumah-Nya.

Maka dengan niat (yang semoga tetap kuat menjemput ketetapan-Nya) saya mendaftarkan diri untuk ibadah umrah periode 13-21 Juli 2011 di Maghfirah Tour & Travel. Bismillah.. Dibantu Mbak Laura Syamina, saya menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk persiapan keberangkatan.

Tuesday, March 1, 2011

Jongkok

Ditanya sama tetangga sebelah yang ngajakin tukeran blog, jadi inget kalo udah lumayan lama ngga posting.. Well, yang belum sempet gw tulis adalah tentang "jongkok"..

Ritual gw setiap pagi & lo semua (mungkin). Thinking and realising your things.. :-P
Kenapa gw sebutin thinking, karena berdasarkan beberapa studi dan sumber yang gw lupa darimana asalnya, tapi gw menyepakatinya, saat jongkok itulah biasanya otak kita lebih mudah mencerna dan menerima ide-ide luar biasa yang ngga terduga.. haha..

Kenyataannya juga dari delapan buku yang sudah gw beli, dimana lima buku pertamanya adalah buku religi yang gw pikir ngga layak masuk toilet, tiga buku terakhir justru kelar duluan karena dari mulai beli selalu ready di toilet.. Gw bisa kontresi penuh membaca ketika berlama-lama jongkok.. Sampe adek gw gobrak-gobrak pintu dari luar WC baru gw sadar kalau hari udah menjelang siang dan gw sudah kelamaan di toilet.. Well, kebiasaan yang aneh dan banyak yang nggak menyarankan karena berpotensi menyebabkan wasir.. Tapi mau gimana? sepertinya ada yang kurang kalo jongkok tapi nggak sambil baca.. Jangan ditiru yaa..

Thursday, December 23, 2010

Stupid Love

There such things I know about love.
You'll always stay even if you've been hurt
You'll tend to care even if your heart's been tored
You'll keep coming back even if you've been so far away from people you love
You'll always forgive even for an unforgotten mistakes
it makes you have no patience's limitation
Some people define it as stupidity, but at some points, stupidities make us human.. And love, even if it's stupid, and whatsoever it is, it makes you feel alive..

:: d'Cost Pelangi 19/12/2010 ::

Tuesday, December 14, 2010

Rani Rachmawati

Selalu bersyukur bisa dipertemukan dengan teman-teman yang menyenangkan, inspiring, selalu bersemangat dan nggak pernah capek menyemangati. Rani Rachmawati salah satunya. Seorang teman baik saya yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan sidangnya. Rani yang ngga pernah lupa bawa oleh-oleh buat saya setiap pulang dari perjalanan dinasnya. Dia yang sampai malam dan pulang kehujanan hanya untuk menemani saya sidang. Rani yang rajin berpuasa.. huuufhh.. untuk yang ini saya iri sama dia. Rani yang pernah nekat kabur dari rumah, *well.. saya salut.. karena paling tidak, dia punya keberanian melakukan apa yang sebenarnya juga saya ingin lakukan.. sstt.. off record yaa*. Rani yang cantik, pekerja keras, dan selalu ceria,, keadaan akan berubah hambar jika dia tidak ada.. seriously.. (semoga dia ngga baca post saya yang ini.. bisa GR nanti)

Ada yang bilang, apa yang datangnya dari hati, pasti akan sampai ke hati juga.. Ahh.. Sekarang ini saya kangen sekali sama Rani Rachmawati. Sukses dengan sidang mu yaa nak..

Tuesday, August 31, 2010

Sebuah Berita dari Sahabatmu di Indonesia

Assalamu'alaikum sahabatku..


Gw mau cerita. Tapi gw mohon jangan merasa bersedih, apalagi kalau harus sampai menangis. *Walaupun mungkin bisa jadi permintaan gw ini bakalan sia-sia*

Astaghfirullah.. Semoga Allah tidak menggolongkan gw ke dalam golongan manusia yang takabur. Sebab yang gw ingat betul adalah, sekalipun Wicel sudah memberikan kepastian 100% tentang keterimanya gw di perusahaan mereka dan keberangkatan gw ke Makasar, gw tetap beristighfar, dan meralat dalam hati kalau kepastian itu nilainya cuma 98%. Ketika seseorang nanya, apa 2% nya? Dengan mantap gw menjawab, itu hak preogratif Allah.

Entah kenekatan macam apa sampai gw berani mengambil peluang itu. Gw sudah berfikir panjang. Gw pun berdo’a dan minta restu dari nyokab gw. Insya Allah gw mantap dengan pilihan gw. Rasa-rasanya ngga ada yang salah dengan cara gw mengambil keputusan itu. Gw juga ngga tau apa yang gw cari dan gw harapkan bisa gw dapat dari sana. Sederhananya, gw Cuma kepingin seperti air yang menjadi jernih karena mengalir.. Begitu kata syair nya Imam Syafi’I bukan?



Well, tadi pagi gw resmi tanda tangan kontrak sama Wicel. Tadi sore pun gw sempet ngadain buka bersama sama temen-temen kantor gw. Tapi kembali, gw tetap meluruskan niat. Gw pengen ngadain buka bersama sebagai rasa syukur karena sampai saat itu, Allah mengabulkan do'a gw, gw menganggap Allah telah memudahkan jalan gw, karena urusan good bye gw sama Pak Suwarto ngga rumit, resign gw dengan nexwave ngga susah, dan seminar gw alhamdulillah lancar.

Tapi siapa yang menyangka Allah punya kejutan yang lain buat gw. Barusan banget, sekitar jam setengah sebelas malem ketika gw lagi packing, gw inget kalau hape gw mati tadi sore. dan baru gw nyalain. 8 sms masuk dan lima dari delapan itu dari HR nya wicel. gw balas salah satunya. si HR ini langsung telpon gw..

Point-nya. Ternyata telkomsel ngga mau pake gw lagi. Pak Edison sama Jaya ngga mau karena masih inget sama disaster itu. Dan gw pun ngga bisa menuntut apa-apa dari wicel. Sebetulnya ketika itu juga gw bisa menetralisir perasaan gw.. Gw membanjiri kepala gw dengan pelbagai hal positif. Karena gimanapun itu udah jadi kesepakatan gw sama Allah. “Pilihkan aku yang terbaik yaa Rabb...”

Bisa jadi Allah jelous dan ngga mau diduain di Ramadhan kali ini. Otak gw bisa menerima ini semua. Yang gw lakukan pertama kali adalah menulis imel ini ke elu dan mencoba mencari peruntungan lagi di Parakontel. Demi Allah, gw berusaha sangat keras untuk bisa meredam dendam di hati gw. Mencoba ngelupain dan menghilangkan penilaian-penilaian subjektif gw tentang disaster itu. For God shake, that wasn’t my fault, at all. Astaghfirullah, sekali lagi, menilai itu bukan kapasitas gw sebagai manusia. Biar Allah aja yang punya hak untuk menilai. Tapi sekalipun otak gw sudah berevolusi pada garis edarnya lagi, tetap, dada gw sesak dan mata gw panas. Akhirnya, (dan lagi-lagi gw harap ini bukan sekedar ke-GR-annya gw), gw merasa Allah sayang banget sama gw.

Gw ngga bodoh dan tolol dengan keputusan gw kan? Ini semua bener-bener kehendak Allah kan? Ini adalah 2% nya Allah yang sudah gw persiapkan yang pada akhirnya ternyata gw ngga bener-bener siap kan? Gw ngga tolol dengan resign dari nexwave kan? Gw ngga sempit dengan keinginan gw berhijrah kan? Gw tidak ingin menyesal dengan apa yang sudah gw lakukan.. Gw jobless.. Dan gw berusaha keras meyakinkan diri gw, ini bukan akhir dari segalanya..


Semua yang gw butuhkan saat ini adalah do'a dari lu.. Lagi-lagi do'a.. Insya Allah gw ikhlas dan kuat, walaupun itu butuh proses. Promise me, don't cry..

wish u well
wassalamualaikum

Wednesday, July 21, 2010

Cita-Cita yang Sederhana

Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana.. Ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga seutuhnya.. Maka dengan seizin Mu Yaa Rabb.. Perkenankanlah saya menjadi bagian dari yang sedikit itu.. Aamin”

Ketika menulis catatan ini saya adalah seorang remaja yang berada dalam masa peralihannya menjadi seorang wanita dewasa, sedang menuntaskan tugas akhirnya di sebuah perguruan tinggi swasta kelas karyawan dan tinggal selangkah lagi menjadi sarjana, seorang wanita yang berada pada masa gemilangnya dalam meniti karir, bekerja di tempat yang baik dengan penghasilan yang sangat baik, anak perempuan yang membanggakan, kakak yang walaupun tidak terang-terangan dinantikan tetapi selalu dirindukan dan menjadi panutan, sahabat yang hangat, teman yang menyenangkan, rekan kerja yang walaupun sering datang terlambat tetapi selalu dimaafkan karena rajin membawa makanan.. Entah semua itu benar adanya atau tidak. Yang jelas saya selalu percaya pada insting dan bagaimana cara hati membawa saya untuk merasa..

Sepintas, semua yang saya miliki, kehidupan saya yang nyaris begitu sempurna, adalah apa yang sebagian perempuan jaman sekarang impikan. Karir, pendidikan, keluarga, teman. Saya amat sangat bersyukur dengan keadaan saya. Semua yang Allah titipkan pada saya sekarang adalah apa yang dahulu pernah saya cita-citakan. Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dan membimbing bagaimana harus menyikapi begitu banyak cita-cita yang terlaksana menjadi nyata ini dengan baik dan bijaksana.. Saya jadi teringat kutipan dari seorang ustadzah..

“Muslimah yang berjuang dalam kebaikan adalah mereka yang selalu to be continued.. berkelanjutan dan terus menerus..”

.

Kemudian saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sederhana..

“Apa cita-cita saya berikutnya?”

Di sinilah, di usia saya yang masih belum genap dua puluh dua tahun, saya merasa jadi lebih tua karena sepertiga partisi dari otak saya didominasi sesuatu yang sedang saya pertimbangkan untuk menjadi cita-cita saya di masa yang akan datang. Menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Sederhana. Sepertinya mudah, tetapi entah dari sudut pandang mana saya menilainya, sekedar membayangkannya saja sulit sekali rasanya. Padahal pada hakikatnya, rumah tangga adalah ladang pahala yang sangat luas bagi seorang wanita.

Semuanya tidak lagi membanggakan ketika untuk memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa dan seutuhnya mengabdikan diri kepada keluarga saja, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang, malah bimbang, bahkan gamang..

Pelan-pelan mimpi itu bergumul dalam pikiran saya..

Menyediakan bekal untuk suami tercinta, memberikan rumah yang bersih dan nyaman sepulangnya, pakaian yang bersih, wangi, dan tersetrika rapih.. Betapa membahagiakannya bila saya bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bergantung pada si 'Mbak'. Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan cemburu jika suami lebih menyukai dan menikmati masakan si Mbak.. L

Menjaga calon buah hati kami, membekalinya dengan gizi dan pendidikan yang baik bahkan jauh sebelum kelahirannya, mengenalkannya pada rangkaian hijaiyah, membacakannya cerita, mengobrol dengannya, ikut membangunkannya di waktu subuh..

Saya tidak ingin kehilangan moment-moment penting dalam sembilan bulan itu.. Tidak ingin menyia-nyiakan dan membiarkannya berlalu begitu saja karena kesibukan saya bekerja.. Saya tidak ingin hanya disibukkan mempersiapkan popok, baju, dan alas tidurnya.. Saya ingin sibuk mempersiapkan kesiapannya menjadi seorang manusia..

Dan ketika Allah mengizinkan ia lahir ke dunia,

Betapa tidak inginnya cuti tiga bulan yang diberikan perusahaan kepada saya membatasi kebahagiaan saya, saya tidak ingin rutinitas menyusuinya, memandikan, mengganti popoknya, berlangsung rutin hanya dalam tiga bulan saja. Saya tidak ingin kehilangan 8 jam dalam sehari dengan tidak melihat ia tumbuh besar dan pintar. Saya tidak ingin kehilangan menyaksikan langkah pertamanya..

Namun dengan intensitas yang sama, kekhawatiran yang lain juga hadir menyertainya..

Bagaimana jika kelak saya berjodoh dengan seseorang yang biasa saja? Bukan mereka yang berpenghasilan “wah” tiap bulannya? Biaya perlengkapan anak, susu, dan pendidikan jaman sekarang kan mahal? Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial yang saya tinggal di luar sana? Lantas bagaimana jika (Naudzubillahi Min Dzaalika) suami yang saya tercinta berpulang ke rahmatullah di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, sedangkan saya harus menggantikannya sebagai kepala keluarga?

No Execuse!! Allah telah menentukan dan mengatur jodoh, rizki, dan maut bagi tiap-tiap kita. Banyak cara untuk mengupayakan rizki yang disebar-Nya di seluruh muka bumi ini. Niat yang baik akan beriring dengan hasil yang baik Insya Allah. Rumah adalah sekolah dan madrasah paling murah bagi anak-anak kita, dan baik tidaknya kualitas pendidikan yang mereka terima itu bergantung pada kita, orang tua mereka. Maka bersemangatlah, Allah menghadirkan masalah berpasangan dengan solusinya. Pasti.

Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah..

Menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan

Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana saya menjadi nyata..

Meridhoinya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk saya

Memberi kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya..

Percaya bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya

Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja

Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah



** I love you my kids.. a long long far away before I met your father.. miss you already..




Sunday, July 18, 2010

Ketika Aku Begitu Menginginkanmu..

Aku merupamu dalam kanvas imajinasiku
Bukan rupawan, tapi tetap menawan
Jenaka, tapi tetap bijaksana dan bersahaja
Kamu dengan segala kerendahan hatimu
Dengan kesederhanaan batinmu
Santun dalam tutur kata
Patuh pada tiap diktum agama
Kamu yang diam-diam selalu aku selipkan dalam tiap-tiap doaku
Allah, jadikan ia nyata.. Jadikan ia ada..

Sungguh tak ada Dzat Yang Maha Kuasa selain Engkau yaa Alloh..

Desir itu hadir..
Degup itu meletup..
Perasaan-perasaan tak terjelaskan
Asa tak bernama namun terasa
Padamu yang telah dijadikan-Nya ada
Padamu yang dijadikan-Nya nyata
Kamu ada dan nyata
Kamu istimewa
Dan aku memujamu di luar mauku

Aku tergoda ingin mencintaimu
Aku tergoda ingin merindumu
Aku tergoda menginginkanmu

Hanya saja..
Hati yang selalu kupercaya pada caranya membawaku untuk merasa,
Sekali lagi membimbingku untuk tidak tergoda pada semua mau itu..
Kini debar itu hambar
Asa itu meniada
Aku bukan kalah atau menyerah
Aku sadar dan belajar berjiwa besar
Aku harus bersabar..


Mungkin..
Aku menginginkanmu yang begitu istimewa dalam rencana dan anganku..
Tapi sepertinya..
Aku lebih membutuhkan ia yang biasa saja..
Ia yang menggenapkanku atas eksistensinya
Ia yang diam-diam menyelipkanku dalam tiap doanya
Ia yang menginginkanku dan menjadikanku kebutuhannya
Ia yang mampu mencerna ketidaksempurnaanku pada sesuatu yang nyaris sempurna
Ia yang membuat kata cinta menjadi terlalu biasa dan sederhana untuk menjabarkan apa yang dirasakannya

Ia yang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjelaskannya,
tanpa aku tahu siapa dan bagaimana ia,
ia sudah di sana..
tertulis bersama hidup, mati, dan rizkiku..
Jauh ketika aku bersemayam dalam rahim ibuku..
Ia lah jodohku,,


Maka yaa Rabb..
Atas izin dan ridha-Mu..
Persiapkan ia yang terbaik mnurut-Mu buatku
Cukupkan aku atas ia..
Jadikan aku layak untuknya
Jaga mata dan hatiku darinya yang bukan ia..
Bimbing aku menyimpan rindu dan cintaku yang 'itu' hanya untuknya..
Kelak sampai tiba saatnya, Insya Alloh..


Jakarta, 17-07-2010

Tuesday, June 29, 2010

catatan sebelum tidur..

Saya sedang memikirkan banyak hal.
Pertama, skripsi saya yang tak kunjung selesai.
Kedua, kamu.
Cuma dua hal tetapi sepertinya otak saya nyaris penuh.
Bahkan kamu mengambil alih bagian pertama yang jelas-jelas bukan tempatmu.
Heyy kamu.. antri!!
tunggu saatnya nanti giliranmu.
Biarkan saya fokus pada yang nomer satu itu dulu.
Ok?!!
Sekarang kembalilah ke kotakmu
Tunggu di sana sampai tiba saatnya
Saya akan menjemputmu.
Tidak lama lagi..
Tidak akan sampai kotakmu itu berdebu
Kelak..kita akan sama-sama memetakanmu
Melengkapkan bagian dari peta hidup saya yang belum sempat terlaksana
Dan bersama, kita akan mengembara menjadikanmu nyata

Ahh..saya mau tidur dulu.
Seharian ini saya sudah terlalu lelah terus memikirkanmu.
Jangan datang ke mimpiku ya..
Pliiss.. hari ini kamu sudah cukup mengganggu.

Saturday, June 26, 2010

Lagu India dan Pak Damir

Suatu ketika, di sela-sela jam kerja.. Tanpa sadar saya menyanyikan dua bait lirik lagu India yang kebetulan saat itu melintas di kepala saya.. Saya hafal liriknya yang tentu saja dinyanyikan dalam bahasa Hindi, teman saya yang seorang india pun mengakui bahwa saya piawai membawakan lagu asal negaranya itu. Bisa jadi kalau orang tidak melihat siapa yang menyanyi, pasti mereka akan berfikir kalau orang India aslilah yang sedang menyanyikan lagu itu..

"Aizzah.. Kamu berbakat lho.. Kok bisa sih hafal lirik lagu india begitu.." Pak Damir salah seorang rekan kerja yang ketika itu duduk di samping saya berkomentar.
"Ahh.. biasa aja kok Pak.." Saya tersipu malu
"Pintar menghafal kamu itu lho.. Lebih bagus lagi kalo dipakai buat menghafal Al Qur'an.." Lanjutnya lagi sambil tetap fokus pada laptopny..

Degg!!

Hening

(Lagi-lagi) Virus Merah Jambu Itu..

Sebetulnya ini rahasia
Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menulisnya
Perasaan ini salah, belum tepat pada waktunya
Saya sudah sepakat dengan diri saya bahwa akan jatuh cinta selepas jadi sarjana
Ahh..tapi sepertinya juga masih terlalu pagi untuk menyebutnya cinta
Entahlahhh
Sudah lama saya tidak seperti ini
Menyadari ia berada di sekitar saya membuat jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya
Tangan saya bergetar
Aliran darah saya berdesir
Semua tingkah saya jadi salah
Padahal, melihat saya pun sepertinya ia tidak
Saya sendiri tak pernah cukup berani untuk menatapnya
Saya orang beragama
Maka saya mencoba beristighfar sebagai pertolongan pertamanya
Sungguh..ini benar-benar pertama kalinya saya butuh pertolongan pertama
Cuma pada Alloh saya meminta
Bimbing saya menjaga hati, mata, dan pikiran dari apa yang tidak semestinya
Bantu saya menyimpan cinta dan rindu yang 'itu' dari ia yang bukan menjadi hak saya
Beri saya kesabaran ekstra sampai pada masanya tiba
Saya yakin saya bisa, Sebab saya percaya
Perasaan.. Keinginan.. Bahkan nafsu yang besar sekalipun pasti bisa dikendalikan
Kalau tidak bisa, berarti ada yang salah dengan niatnya
Luruskan niat.. Itu kuncinya

Nasihat dari Seorang Sahabat

Ada sebuah peristiwa sederhana yang selalu saya ingat, sempat membuat saya tertegun, speechless, bahkan saya benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkannya..


Ini adalah kisah sebuah sketsa di sebuah bis kota. Perbincangan singkat dengan seorang pengamen jalanan kenalan saya semasa sekolah dulu. Ketika itu saya bersama dua orang teman, sebut saja Maya dan Meita. Karena sudah tidak ada bangku deret tiga yang tersisa, maka kami duduk terpisah. Saya duduk sendirian, dan kursi di sebelah saya memang kosong. Kami duduk di kursi tiga baris paling belakang. Ketika itu dua orang pengamen menaiki bus tersebut. Saya mengenal salah satunya, Endar namanya. Kami memang sempat berkenalan beberapa waktu sebelumnya karena memang dia sering mengamen di bus kota yang melintasi daerah Grogol dan Cengkareng ini. Kemudian dia duduk di bangku kosong persis di sebelah saya. Kami pun terlibat perbincangan basa-basi singkat.

"Hey Aizz.. " Sapanya sebelum menjatuhkan diri di bangku di sebelah saya itu.

"Hey Bang.. " Sambut saya sekenanya.

"Maya sama Meita mana?" Ia menanyakan kedua teman saya tadi yang kebetulan juga dikenalnya.

"Ada di belakang.. Tidur kayaknya.."

"Oh.." Dia melongok ke belakang dan memang mendapati keduanya sedang tidur.

"Iz.. Kok kamu ngga berjilbab kayak si Maya sih?" Deg..saya seperti tersambar petir mendapati pertanyaan iseng yang sangat mengena itu.

"Nantilah mas, saya jilbabin dulu hati dan kelakuan saya.. Khawatir nanti pas sudah berjilbab tapi sholat dan akhlak saya masih minus." saya nyengir ngga enak dan menjawab pertanyaan itu dengan muka yang memanas karena malu.

"Lohh.. Justru dengan berjilbab, kamu bakal lebih berhati-hati dan malu sama jilbab kamu. 'masak aku ngga sholat sih, aku kan berjilbab' atau mungkin 'masak aku masih suka ngomong kasar sih, malu dong sama jilbabnya'" Dia tersenyum lalu beranjak hendak memulai aksi mengamennya.


Saya mematung di tempat saya, masih tertegun dengan apa yang disampaikannya tadi. Sikapnya itu sama sekali tidak seperti menghakimi. Mungkin ia tidak pernah tahu bahwa kalimatnya itu masih melekat hingga kini, sudah hampir tujuh tahun setelah ia menyampaikannya sambil lalu. Sederhana tetapi begitu mengena.

Terima kasih Bang Endar.. Alhamdulillah sekarang Aizz sudah berjilbab.. Terima kasih buat nasihatnya.. Semoga Bang Endar senantiasa dalam perlindungan Allah.. Aamin.


Saturday, April 17, 2010

Ketika Kamu (akan) Pergi..

Sahabat.. Gw lupa kapan pertama kali gw mendengar kata-kata itu. Macam-macam yang gw pelajari tentang arti sahabat. Mulai dari film, cerita pendek, kisah nyata, catatan kecil, ataupun tulisan ringan yang gw temuin di buku, koran, maupun TV. Hampir kesemuanya mengharu biru, membuat gw terharu, bahkan sampai menangis tersedu. Tapi sayangnya, perasaan-perasaan yang muncul itu cuma sebentar. Kenapa? Gw baru menemukan salah satu jawabannya. Gw tidak memiliki konektivitas dengan semua itu. Sering membaca, banyak mendengar, suka melihat cerita-cerita tentang persahabatan tidak lantas membuat gw memiliki ikatan dengan kata persahabatan itu. Memang pada sisi yang lain, membiasakan semua itu sedikit banyak memupuk satu keyakinan dalam diri gw bahwa 'The real best-friend does exist'. Hanya saja, konektivitas yang gw bicarakan tadi tidak ujug-ujug muncul begitu saja jika hanya sekedar terbiasa dipupuk. Konektivitas itu lahir dari sebuah proses. Proses yang tidak sebentar, lumayan memakan memori untuk mencerna dan mengolahnya, bahkan sukar diterima akal sehat bagi mereka yang memang tidak mengerti atau tidak mau peduli dengan konektivitas itu sendiri. Tapi buat gw, konektivitas itu penting. Konektivitas itulah yang kemudian akan melahirkan generasi berikutnya, elu menyebutnya sebagai emotional attachment, dan gw sepakat dengan itu. Emotional attachment itulah yang memantapkan gw untuk mempredikati lu sebagai SAHABAT gw...


You mean a lot for me..

Elu adalah..
Seseorang yang ketika gw sedang merasa ingin punya pacar, akan selalu ada dan dengan sukarela nemenin gw jalan, nonton, makan, n curhat sampe malem. Bahkan sampe repot-repot berniat mengajukan proposal three-months-relationship-trial ke gw segala.. *yang untungnya ngga jadi..* hahaha.. Tapi dari situ juga gw nyadar, bahwa compare to you, having a boyfriend just nothing.. Lu sudah terlalu banyak merepresentasikan banyak sosok yang gw butuhkan.. lebih dari yang pantas gw dapatkan.. Temen, saudara, orang tua, tempat curhat, pun sosok humanis yang kadang menyebalkan kalau lagi moody..

Elu adalah..
Seseorang yang selalu punya telinga untuk mendengarkan curhat-curhat ngga penting gw tiap gw jatuh cinta, tiap gw patah hati, tiap gw dicuekin sama kecengan gw. Lu selalu piawai membesarkan hati gw bahwa they're just not worthy enough for me and I deserve better.. ^_^

Elu adalah..
Seseorang yang tidak membebani gw dengan rasa khawatir kalau nantinya elu akan jadi GR atau berpikir gw naksir ketika ujug-ujug gw nelpon elu dan nanya 'lagi dimana? ngapain? sama siapa? sibuk yah?'

Elu adalah..
Seseorang yang tidak akan mengernyitkan dahi kalau ditengah-tengah obrolan kita, sambil lalu gw tanyain 'udah solat apa belum lu?'

Elu adalah..
Seseorang yang paling tahu kapan harus diam ketika yang gw butuhkan yaa memang cuman diam, lu tahu bahwa wejangan-wejangan hanya akan mental ketika gw sedang bengal.. sedang libur sebentar dari menjadi si-sok-sederhana yang selalu bijaksana dan bersahaja..

Elu adalah..
Seseorang yang pernah bilang "you're good at turning something negative into something positive.." dan sekali ini gw pengen bilang "you're good at making everything easier when it gets harder.."

Elu adalah..
Rival debat paling fair, temen diskusi paling tob, gw bisa share banyak hal sama elu.. hal-hal yang banyak orang ngga tertarik untuk ngobrolinnya.. tentang manusia setengah malaikat, tentang manusia setengah iblis, tentang iblis yang menyamar jadi malaikat, tentang malaikat yang ternyata juga bisa bermetafosa jadi iblis, tentang iblis yang jadian sama malaikat, tentang hidup, tentang cita-cita, tentang betapa tidak mudahnya perjuangan buat meraihnya, tentang buku, tentang lagu, tentang film, tentang makanan, tentang pekerjaan, tentang uang, tentang macam-macam.. Memang, tentang 'tentang-tentang' itu adalah hal biasa, bukan cuma elu maupun gw yang tidak pernah merasa bosan mendiskusikannya, ini cuma perkara waktu dan mau.. Disinilah spesialnya elu buat gw, Elu mau dan selalu punya waktu untuk mendiskusikan 'tentang-tentang' itu dengan gw.. yaah walopun sesekali pasti elu merasa bosan.. :D


Gw tidak tau bagaimana harus merasa ketika pada akhirnya gw mendengar kabar (baik) itu dari elu. Suwer udah dari jauh-jauh hari gw mempersiapkan diri untuk surprise yang satu ini, tapi sepertinya gw ngga pernah bener-bener bisa siap. Gw luar biasa bahagia dengernya, bangga, terharu.. Klise memang.. Maafin gw kalau sekali ini gw egois.. Gw lebih mikirin diri gw sendiri ketimbang khawatir akan bagaimana lu di sana, sangat jauh dari rumah, dengan situsi dan keadaan yang tidak pernah gw bayangkan sebelumnya. Gimana jadinya gw tanpa elu.. Betapa bakalan hambarnya hidup gw.. Apa akan ada 'Elu' yang lain ketika elu ngga ada.. Apa 'Elu' yang lain itu akan mau dan selalu punya waktu..

Gw ngga tau apa yang akan terjadi dua tahun kedepan, tapi menyadari entah tabiat atau hobi gw yang kadang suka kecentilan atau memang suka tebar pesona dan punya cita-cita nikah muda, gw khawatir ketika lu pulang nanti gw udah jadi istri orang... Dan mau ga mau predikat itu akan mengubah semuanya, mengubah cara kita bersahabat.. T_T

Reaksilu adalah syok ketika gw memaparkan hal itu, sambil memohon-mohon supaya jangan buru-buru merit ketika lu masih disana.. Yah semoga saja yah kawan.. Semoga saja calon suami gw (yang katalu masih abstrak) ini nanti mau mengerti.. bisa bersabar dan mau menunggu sampe lu pulang.. dan lu tau apa yang akan gw lakukan saat itu, gw akan dengan sangat bangga memperkenalkan lu sebagai best-man gw. Dan dia tidak boleh cemburu, ehmm.. boleh, tapi tidak boleh over-reacted.. Karena gimanapun juga, lu adalah salah satu kontributor dominan pembentuk gw sampai bisa jadi gw yang seperti sekarang ini..


Gw sudah kehabisan kata-kata.. Gw sudah kehabisan tenaga.. Udah malem.. gw belum ngantuk.. tapi gw harus tidur.. Semoga catatan ini bisa membuat lu tersenyum , tidak membuatlu GR apalagi semakin besar kepala karena sukses membuat gw dengan terpaksa mengakui kalau elu emang sayang-able.. cuihhh..




dedicated for my best-est-friend ever, my best-man..
Marshmallow berinti titanium ^_^

Wednesday, April 7, 2010

Happiness..

i found my life so wonderful, so colourful..
This is the place i call home,
the place where i belong..
I have no reason to feel bad here..
I found that happiness is not merely about the way we feel when our dreams come true..
But it's a kind of feeling that remains everytime you share a piece of happiness with other..
when you could remove a burden from somebody else's shoulder..
When you just could be a good listener for somebody else's secret story..
When you could see a line of smile from your stupid jokes..
When you feel that you could be a piece of somebody else's puzle to complete them..
When you could feel somebody else's sadness.. Cryin up together..
When you see so many innocents children playing arround.. Fight for a chocolate cakes..


Happiness is the way i feel when they're welcoming me with a warm kiss and hug..
the way i feel when they send me back with their hiden tears that they fail to hide..

It's like..
Your work problem, it's just nothing
Your love-life matter, it's just disappear
Your burdens, it's just begun to evaporate..
That's okkay if you have to work hard all the day, having no time for yourself..
That's fine for being ignored by your crush..
All those sucks, it's just not a big deal at all.. Being home gives me a break..

Now I'm here.. Laying down under the open sky.. I put both my arms under my head, waiting for a shooting stars, and stupidly wishing to be able to compile all those moments.. Those hundred happinesses.. into an eternal capsule so that i could take them everytime i feel not happy when i'm not home..

Dear Allah, please don't mad at me. I was joking, I totally understand that making a wish on a shooting stars and the wish itself, it's just a stupidity. You know how grateful I'm.. it's more than i was expected before.. Yeah.. I do know.. That's the way You really are..

You hear more than I say,
You answer more than I ask,
You give more than I desire..

Thank You Allah..
Thanks for everything..
Thanks for the long weekend,
the happinesses,
the naughty cousins,
the dish my grandmother cook,
the sparkling stars,
And many others unmentionable, uncountable things You gave to me..




Di bawah langit-Mu
Tegal 3 April 2010
-(-^_^-)-9

Wednesday, March 17, 2010

Ketika Mencintai..

Saya mencintainya. Seseorang. Darinya saya belajar tentang esensi mencintai dan dicintai. Dia, pria terbaik dalam hidup saya. Darinya saya tahu, bahwa mencintai adalah kata lain dari pengorbanan tak bertepi, tanpa pamrih, sepenuh hati, meski letih, perih tanpa sekalipun mengeluh. Ia lah si Tak Pernah lelah yang tak kenal menyerah, luar biasa sabar, penuh kasih sayang, bijaksana, sarat teladan.


Genggamannya mampu meyakinkan saya bahwa ia selalu ada untuk saya, saya aman bersamanya. Mendekap saya adalah caranya menyampaikan "tenang, semua baik-baik saja." Pundaknya adalah tempat bersandar paling nyaman sedunia. Dia adalah problem solver saya. Saya tak perlu siapa-siapa lagi selama ia ada. Ia mencukupkan saya atas semuanya. Ia lah alasan saya untuk bermimpi, bangkit dan mewujudkanya jadi nyata.


Namun, semua tak lagi menyenangkan ketika saya tahu ia tak sebaik itu. Pria ini menghinati saya. Ia menyembunyikan ketidaksetiaannya pada saya. Ia mencurangi saya. Seketika saya berhenti memujanya. Saya tak lagi mengacuhkannya. Saya kehilangan dunia saya, saya menghindarinya. Ironis, pria ini berubah menjadi sumber masalah saya, ia berusaha terus menggenggam, tetapi saya enggan. Saya tak lagi hirau. Cukup pada kenyataan menyakitkan bahwa tak ada lagi ia di sana untuk saya. Sandaran paling nyaman sedunia saya sudah tak ada. Mimpi-mimpi saya hilang. Ia mengubah hidup saya menjadi tragedi. Bukankah hidup tanpa mimpi adalah sebuah tragedi? Menyedihkan.

Saya tersiksa. Sampai pada bulan ketiga, pria ini sakit. Selama tiga hari, saya selalu bersamanya. Bermalam menjaganya. Menyakitkan, sangat, ketika dalam waktu bersamaan saya harus menyaksikan orang yang paling saya cintai sekaligus telah menghianati saya meregang nyawa. Saya memaafkan, sepenuhnya, sungguh, berharap Tuhan mau berbaik hati untuk membuatnya tetap hidup sebagai reward karena saya telah memaafkan. Penghianatannya itu tak penting lagi sekarang. Pada detik terakhir saya menangis sejadi-jadinya, memaksa Tuhan untuk mengabulkan keinginan saya. Tetap, saya tak mampu meluluhkan-Nya. Mungkin saya terlalu sombong itu, sampai harus menunggu tiga bulan, menunggunya sekarat, untuk bisa memaafkan. Saya menyesal.


Terengah-engah saya berlari, berhenti pada titik tak ingin diusik. Menikmati sesak. Meratap. Merana. Nelangsa. Mencoba menelusuri dimana akhir dari sebuah keharusan untuk menerima. Mencari tahu mengapa ikhlas harus selalu beriring pilu, mengapa kekuatannya yang selama ini saya imani tak jua mampu menguatkan saya. Saya tetap lumpuh tanpanya. Kini rasa cinta saya pada jiwa yang sudah tak lagi beraga hanya sebatas kata, mengalir tanpa tau kemana ia akan bermuara. Kosong. Hampa. Sakit. Semua asa, cita, dan cinta meluruh seiring ketiadaannya.


Kalau saja pilihan itu masih ada, dan saya berhak atasnya. Maka dengan sangat rela hati saya bersedia menukar kebahagiaan seluruh hidup saya dengan keberadaanya, mengabdikan diri pada rasa sakit seumur hidup saya, dengan segala keterbatasannya, menggenggam erat tangan saya, menjadi sandaran saya, mendekap saya, menyelesaikan semua masalah saya dengan senyumnya, menguatkan saya dengan kelemahannya.


Semakin menyesakkan ketika saya menyadari bahwa pesan moral dari penghianatannya bukanlah "semua pria itu brengsek dan kamu tak membutuhkan pria untuk bisa berdiri" , melainkan "persiapkan hatimu untuk bisa selembut udara, sekeras baja, seluas dan sedalam samudera sebelum kamu jatuh hati pada seorang pria. Karena sungguh, seseperti malaikat apa pun mereka, mereka tetaplah manusia biasa yang terlalu absurd untuk tidak berbuat salah". Ketidaksetiaannya berkata bahwa ketidakmungkinan adalah hal yang tetap saja mungkin. Tak selamanya sebelanga susu harus rusak hanya karena setitik nila. Tidak adil tidak memaafkan sebuah kekhilafan setelah ribuan kebaikan.


Saya mencintainya. kemarin, hari ini, esok, selamanya..

Eksklusif

Berangkat dari diskusi menyenangkan dengan seorang kawan, note dari teman semasa SMP dulu, sekaligus debat-sengit-tapi-lumayan-konstruktif dengan kenalan dari pulau seberang, saya tergerak untuk membuat catatan kecil ini. Sungguh tiga percakapan tanpa rencana yang membuat semangat saya kembali berfluktuasi setelah lebih dari satu minggu stuck di posisi yang sama.

***
Entah darimana datangnya ide ini, tiba-tiba saya ingin meremove foto-foto saya di facebook. Tidak ada alasan khusus. Tidak terencanakan. Cuma ingin saja. Hanya saja, saya tidak serta merta langsung menghapusnya. Saya masih menyisakan beberapa. Saya belum yakin benar dengan keinginan saya yang tiba-tiba itu. Beberapa foto teman dan segelintir foto diri saya yang saya anggap best-pose tetap saya keep. Hemm..mungkin itu salah satu sisi gelap saya sebagai manusia yang masih haus pujian dan dengan-tololnya merasa bangga - merasa senang ketika beberapa orang menganggap foto saya itu cantik. Saya bukan manusia setengah dewa yang saklek dengan undang-undang nirwana. Karenanya saya berkompromi dengan diri saya untuk 'membiarkan' saja perasaan-perasaan semacam itu nongkrong di salah satu serambi gelap rumah batin saya.. Polemik itupun berlalu seiring waktu. Saya punya kesibukan lain selain berkutat dengan akun facebook saya.


Tidak lama berselang, saya terlibat diskusi dengan seorang kawan. Jika saya boleh menyebutnya sebagai suatu kebetulan, maka foto-foto dalam album facebook sayalah yang 'kebetulan' membawa kami pada diskusi tersebut. *Walaupun dari perspektif yang berbeda, tidak ada suatu hal pun yang kebetulan di dunia ini, semua sudah tersimpan dan terprogram dalam mega server Lauful Mahfuz : mengutip dari KCB2*


Kawan saya yang sedang berselancar di halaman facebook saya berkomentar..

Kawan: "temen-temen kamu cantik ya.."

Saya: "cuma temen-temen saya doang nih? >_<" gurau saya menanggapi komentar kawan saya itu.

Kawan: "temen kamu ngga ada yang model2x akhwat gitu ya?"

Saya mengernyit. Saya merasa terusik dengan statementnya itu. Sejauh yang saya tahu, definisi akhwat adalah perempuan. Saya berpura-pura tidak mengerti apa yang dimaksudnya. Saya berusaha tak acuh dengan definisi akhwat dalam masyarakat yang berarti wanita muslimah dengan rok-maksi, berkaos kaki, dan berjilbab panjang sampai ke pinggang. Dan foto-foto dalam album saya itu, termasuk saya didalamnya, tidak masuk dalam golongan akhwat versi masyarakat, sekalipun kami semua berada dalam balutan jilbab.

Saya : "ehm..akhwat itu bukannya perempuan ya? Apa appearance kami ga cukup menunjukkan kalau kami perempuan?" saya menanggapinya dingin.. "memang definisi akhwat menurut kamu apa?"

Kawan : "oh maaf.. Saya salah tulis" ia mencoba mengelak.

Saya yang merasa tidak cukup "akhwat" kembali melontarkan komentar sinis..

"oh..ternyata hape masih dinilai dari casingnya yah. Pantes banyak orang suka gonta-ganti hape, bahkan ga cukup dengan satu hape"

Dari situlah diskusi kami merangkak dari malam menuju pagi. Saya yang menjadi pihak yang sedikit tidak terima karena tidak dianggap sebagai "akhwat" terus menerus protes. Mempertanyakan mengapa ia seolah-olah memposisikan kami satu level dibawah akhwat versi masyarakat hanya karena penampilan kami. Tidakkah inner beauty dan personality trait sama pentingnya dengan appearance. Apa hanya karena kami bercelana jins dengan pakaian dan jilbab tidak segombrong "akhwat" lantas kami dijadikan pilihan kedua.

*ahh..mengapa semuanya menjadi rumit yah kalau sudah berurusan dengan perempuan.. :D *

Panjang dan lebar kawan saya menjelaskan. Mencoba memperbaiki situasi karena merasa lawan diskusinya sedang emosi. Berhati-hati agar tidak salah tulis lagi. Ya, saya mengerti.

Saya mengerti jauh sebelum ia menjelaskan. Pun akhirnya saya harus mengakui. Saya hanya cemburu, saya iri. Karena saya belum bisa seperti apa yang mereka sebut "akhwat".

***
Saya mengantuk paginya. Mengantuk mengingatkan saya pada apa yang saya lakukan semalam. Saya jadi ingat lagi pada diskusi semalam. Kenapa yaa masih terasa menyebalkan..huufh.. Padahal saya sudah sepakat untuk melupakannya.

tiba-tiba sebuah notifikasi mampir di halaman facebook saya. Seorang teman baru saja membuat note. Dia menandai saya dalam catatannya.

Dia adalah teman semasa SMP dulu. Dalam catatannya ia mengulas (lagi-lagi) terinspirasi dari foto dalam facebook salah seorang temannya.

Isi catatannya seperti memberi pembelaan pada apa yang tengah saya rasakan ketika itu. Bahwa apa yang terlihat dalam facebook itu bisa saja menipu. Yang terlihat cantik belum tentu cantik, yang terlihat baik belum tentu benar baik, yang terlihat tidak baik juga belum tentu benar-benar tidak baik. Kemasan itu bisa saja menipu. Penampilan itu bukan jaminan. Oiya, saya lupa bilang, kalau teman saya ini adalah "akhwat". Kombinasi busananya tidak jauh dari rok-maksi, kauskaki, dan jilbab panjang-sepinggang. Seketika saya ingin memeluknya. Saya malu, karena justru ia lah, salah satu representasi rival saya dalam dsikusi tadi malam, justru menjadi seseorang yang mampu menghibur saya dengan catatannya.

***

Tidak lama berselang, seorang kenalan dari pulau seberang menyapa saya di yahoo messenger..

Kenalan: "hey..sombong yaa sekarang..”

Saya : “Halo.. apa kabar? Kok sombong?”

Kenalan: “Gimana acara liburannya nih? Seruu dong wiken sama pacar? Kiss.. hug.. Uhm.. so young and in love..xixixi..”

Bagai disambar petir di siang bolong, saya kaget bukan kepalang dihujani berondongan pertanyaan tidak sopan semacam itu. Saya merasa reaksi saya berikutnya adalah normal. Kesal. Jengkel. Orang ini tidak biasanya kasar seperti itu.

Saya: “Huss sembarangan yaa kalo ngomong”

Kenalan: “Loh memang kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaan saya?”

Kami pun beradu argumen siang itu. Saya yang merasa keberatan dengan pertanyaannya, dia yang tetap keukeuh bahwa tidak ada yang salah dengan pertanyaannya. Dia bilang tidak ada niat melecehkan, tapi saya bilang niat itu tidak kasat mata, tidak ada yang tahu.. Sampai pada satu kalimat yang saya ingat betul terlontar dari saya berikutnya..

“Sebabnya seseorang berprasangka tidak baik pada kita bukan semata-mata karena cara berpikirnya yang sempit dan tidak positif, tapi terkadang kita lupa, bahwa disadari atau tidak, kita sendirilah yang menciptakan paradigma mereka. Begitupun sebaliknya..”

Nyess..saya seperti sedang melontarkan kalimat itu pada diri saya sendiri. Saya kembali teringat dengan kawan saya semalam. Bisa saja saya yang mengundangnya untuk melontarkan pertanyaan itu. Tapi yang terjadi, saya terlalu egois untuk turut sepakat pada eksklusifitas yang ia predikatkan pada "akhwat". Saya belum sepakat.. sejujurnya.. bahkan saya merasa terdeskriditkan..

Fffuiiih.. tapi saya menghargai. Sungguh. Memang tidak mudah menyamakan paradigma untuk bisa berada pada frekuensi yang sama. Hidup adalah pilihan. Saya percaya, setiap manusia itu berproses pada apa yang menjadi pilihannya. Hanya saja, pilihan dan waktu yang dibutuhkan setiap manusia untuk berproses itu berbeda-beda. Saya menghargai mereka dengan pilihan-pilihannya sekalipun terkadang saya butuh waktu untuk bisa mencerna, untuk memutuskan apakah saya akan sepakat dengan pilihan itu, atau justru tetap berada dalam zona saya yang tetap berada pada pilihan dan alasan-alasan saya..

Friday, February 26, 2010

Ahh.. Ternyata Saya Bukan Roti

Kantuk dan sibuk tak henti-hentinya menggoda saya. Berkompetisi merayu saya untuk menyerah berserah pada salah satunya. Kantuk dengan segala kesederhanaannya, melenyapkan lelah dengan cukup memejamkan mata. Sibuk yang anggun, penuh percaya diri, yang selalu yakin bahwa saya tak punya pilihan lain selain memilihnya. Dan menyebalkan mengakui ia memang benar. Tapi tidak kali ini.. Saya berpaling dari keduanya. Saya memilih bersenandung, mencumbu lagu-lagu baru menyulut cemburu, bernyanyi lirih menepis kantuk dan mengempaskan sibuk. Kantuk menatap saya iba, kasihan pada saya yang terlalu keras berusaha mengabaikannya, yang kenyataannya tetap saja tidak bisa. Sibuk merajuk, tetap cuek sekalipun ia sadar benar bahwa sebenarnya saya tidak ingin benar-benar bersamanya. Keadaan yang memaksa saya..

Tapi keasikan saya terusik. Angin seperti berbisik..

"Ya udah.. Bobo yaa sayang.."

Aliran darah saya berdesir hebat seketika. Sesak dan seperti ingin meledak. Jantung saya seperti mau melompat dari tempatnya berdetak. Tapi saya tetap tenang.. Saya hanya merindukannya. Itu saja. Memang selalu seperti ini. Saya selalu merindukannya, dan dalam intensitas yang sama, saya lebih senang menepisnya. Merindukannya membuat saya sedih. Sedih membuat saya ingin menangis. Dan saya tidak punya waktu untuk menangis. Saya enggan menangis. Menangis membuat saya lemah. Rapuh. Saya bukan orang yang rapuh. Seperti kali-kali sebelumnya, susah payah saya berhasil meredamnya.

Saya kembali menekuni sibuk dengan hati penuh dentum berdebum. Tak sabar menyelesaikannya dan lekas berlabuh pada kantuk.. Karena hanya ia yang mampu melenyapkan sedih dan menyekat tangis saya dalam setiap tidur yang ia suguhkan di akhir percumbuan kami..

Saya mengerjap.. Kantuk masih bergelayut.. Saya berbaring di tempat di mana ia tak pernah ada.. Ia tak pernah di sini sebelumnya.. Tapi ia terasa.. Saya merasakannya.. Sangat dekat, hangat, mendekap saya erat.. Bulir hangat mendesak keluar dari tempatnya tersekap sedari malam tadi. Ia berhasil membobol pertahanan saya..

"Ahh.. ternyata saya bukan roti.." saya membatin.

Ternyata saya tidak terbuat dari adonan telur-mentega-dan-tepung terigu. Saya bukan roti yang tidak punya hati. Saya boleh bersedih. Saya boleh menangis. Sedih membuat saya berharap. Menangis membuat saya kuat. kesedihan ini membimbing saya untuk bersimpuh, berdoa, dan dengan segala kerendahan hati meminta pada-Nya. Melaluinya saya mengerti, sedih yang tidak beriring doa hanya sia-sia..


Saya tidak takut lagi pada kesedihan.. Karena jauh di salah satu rumah batin saya, saya ingin tetap merindukannya, sekalipun saya jadi harus bersedih, sekalipun saya jadi harus menangis, bukan masalah lagi sekarang, entah dari perspektif mana saya melihatnya, merindukannya adalah salah satu syarat bagi saya untuk tetap bisa merasa menjadi manusia. Seutuhnya. Bukan roti.

Dilema fulltime house wife.. fulltime mother..

 Bismillah,   menjadi full ibu rumah tangga sebenernya sudah jadi cita-cita jadi jaman baheula selagi masih gadis.. Bahkan mimpi itu pernah ...