Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts

Wednesday, December 15, 2010

Ma Vanesyilla.. ~_~



Ananda Paradibasandi. Selepas menyelesaikan studinya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan, ia memutuskan untuk bekerja. Menolak tawaran eyang putrinya untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Jakarta. Dari tempat bekerja yang satu ke tempat bekerja yang lainnya, ia berpindah-pindah. Rupiah yang diperolehnya sedikit demi sedikit ia kumpulkan demi kelangsungan keluarganya, Ibu dan seorang adik laki-lakinya. Tidak hanya untuk makan, tetapi juga untuk membiayai adiknya yang masih sekolah serta digunakannya untuk memperbaiki rumah seluas tidak lebih dari seratus meter persegi yang ditempatinya. Ayahnya masih ada, tapi beristri dua. Istri keduanya, yang mau tak mau lantas menjadi ibu tirinya berada di Ciamis, Jawa Barat sana. Ayahnya biasa menghabiskan waktu di sana, jarang sekali mengunjungi keluarga pertamanya yang berada di Jakarta. Katakanlah, ia terbiasa hidup tanpa ayah. Sepertinya itu lebih sederhana daripada harus panjang lebar menceritakan apa dan mengapa mereka tidak bersama-sama.

Ananda Paradibasandi. Menikah di usia yang sangat belia. Dua puluh tahun ketika itu. Tahun 2009 sembilan yang lalu. Menikah dengan seorang lelaki yang sepertinya memang sudah lama ia pacari. Menikah, hamil, lalu melahirkan. Siklus yang lumrah bagi seorang perempuan menikah. Pasangan muda ini dikaruniai seorang putri kecil yang sangat cantik, mereka menamainya Vanesyilla.

Ananda Paradibasandi. Hari itu ia sedang menyiapkan acara 35 harian kelahiran Vanesyilla. Semuanya berjalan lancer, acara pengajian dan pembacaan surat Yaa-Sin berlangsung hingga selesai. Namun siapa yang menyangka, memang hanya Allah yang memiliki kuasa atas semua takdir makhluk-Nya. Beberapa menit berselang, iy aterjatuh lalu mengejang, meregang nyawa, lalu meninggal. Sudah tak sempat lagi di bawa ke rumah sakit. Dan demikianlah ketetapan Allah pada salah satu makhluk-Nya terjadi. Si kecil Vanesyilla yang belum genap empat puluh hari kini menjadi piatu.

Ananda Paradibasandi. Seorang anak, istri, dan ibu. Ia telah menyempurnakan fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Ia mengubah penilaian saya tentang menikah muda. Bahwa tidak ada penilaian manusia yang penting tentang segala sesuatu. Bahwa penilaian manusia bisa saja salah. Semula saya sangat menyayangkan keputusannya menikah muda. Namun justru siapa yang menyangka bahwa keputusannya itu adalah yang paling tepat dengan situasinya..

Wednesday, September 29, 2010

Cukup Aizzah saja..

(Masih) Saya belum sependapat pada sebagian kalangan yang memberikan interpretasi subjektif mereka tentang definisi akhwat-ikhwan dan akhi-ukhti. Dari pengetahuan saya yang memang cuma sedikit, akhwat itu berarti saudara perempuan, dan ikhwan adalah saudara laki-laki. Tapi sempat beberapa kali terlibat perbincangan, rasa-rasanya arah makna kata-kata itu mulai bergeser dari makna aslinya.

Sekarang ini, jika seorang perempuan mendapat predikat akhwat, berarti secara penampilan dia adalah seorang wanita berbusana muslimah, dengan jilbab yang tidak transparan dan panjang, menggunakan rok maksi, flat shoes dan kaus kaki. Ya itu baik, sangat baik, bahkan agama islam pun mengajarkan demikian. Seorang wanita yang mendapat predikat akhwat biasanya adalah aktifis dakwah kampus, anggota majelis ta’lim, remaja masjid, atau perkumpulan pengajian. Seorang wanita yang mendapat predikat akhwat biasanya mereka yang tumbuh dan besar di pesantren, para hafidzah atau penghafal alquran, para wanita dengan kualitas ibadah yang dianggap baik oleh orang-orang sekitarnya. Lantas, bagaimana jika label akwat dipredikatkan pada seorang muslimah yang masih belum berjilbab? Pada wanita berjilbab yang masih slengean (asal-asalan)? Pada wanita mualaf ber tank-top dan rok mini yang baru memulai belajar islam? Pertanyaannya, apakah boleh? Ya tentu saja dengan huruf capital bercetak tebal, jawabannya adalah BOLEH. Bagaimanapun mereka adalah wanita, saudara perempuan kita. Tapi coba, baurkan mereka dengan para santriwati itu, dengan para aktifis dakwah kampus itu, pada perkumpulan remaja masjid itu, dugaan saya.. akan banyak suara atau bisikan-bisikan mengudara tentang mana yang akhwat dan bukan-akhwat. They’re just different. Pertanyaannya adalah MENGAPA? Mengapa harus ada segmentasi? Mengapa label akhwat itu lantas jadi membatasi? Seperti mengkotak-kotakkan antara mana yang high-quality dan low-quality. Bahkan, label akhwat itu justru malah mengintimidasi sebagian dari mereka yang dianggap bukan-akhwat. Bukankah ibadah yang baik dan jauh dari riya adalah ibadah yang dilakukan diam-diam dan rahasia ya? Bukankah yang demikian itu lebih disukai Allah ya? Dan bukankah setiap manusia itu berproses? Dan bukankah hak menilai itu hanya milik Allah SWT saja? Kelak setiap manusia akan mempertanggungjawabkan setiap apa-apa yang dilakukannya, apa yang dikenakannya. Dan bagi mereka yang berpikir dan selalu berusaha berproses menjadi manusia yang lebih baik, perubahan adalah kebutuhan, kebutuhan adalah panggilan, jadi saran saya, jangan terpaku pada bagaimana cara orang menilai anda, dengarkan dan ikuti panggilan hati anda. Dan saya sudah memutuskan, saya tidak ingin dilabeli akhwat atau ukhti.. Cukup Aizzah saja.. Dan cukup pada bagaimana saya ingin memikat-Nya dengan saya sebagaimana adanya.. tak perlu mengada-ada.. tak perlu penilaian manusia mengganggu saya.. tak perlu..


*dibuat untuk diri sendiri..


Tuesday, September 28, 2010

Pertolongan Allah itu dekat

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Dan sadarkah kita bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat? Beberapa hari yang lalu, tepat pada hari Skripsi tugas akhir saya akan disidangkan, ada sebuah peristiwa yang sangat ‘indah’ dan memiliki hikmah tersendiri bagi saya.

Sidang dijadwalkan mulai pukul 15.30. Langit Jakarta bagian selatan ketika itu mendung. Menjelang tepat pukul tiga sore, adzan ashar berkumandang. Saya segera beranjak menuju mushola kampus untuk menunaikan shalat.

“Biar presentasinya lebih tenang..” Pikir saya

Ternyata keran air di mushola kampus mati. Tidak mengeluarkan air sama sekali. Padahal waktunya sudah sangat mepet. Setengah jam itu kan sangat sebentar. Tapi saya mantap. Saya harus shalat dulu. Maka saya mempercepat langkah menuju mushola di kampung belakang kampus saya. Ahh.. syukurlah.. Masih pukul 15.05.. Saya tidak perlu merasa terburu-buru, karena normalnya untuk mencapai kampus (red. Ruang sidang) tidak dibutuhkan waktu sampai lima menit.

Belum sampai saya menggenapkan rakaat ketiga shalat saya, tiba-tiba air seperti tumpah dari langit. Brezzz…. Hati saya pun dengan tanpa menunggu komando ikut gerimis. Terbayang sekilas saya akan sidang dengan pakaian basah kuyup, atau bisa jadi, komputer di ransel saya basah dan jadi rusak.. Gusti Allah.. Tolong.. saya bergumam dalam hati..

Maka saya pun memperpanjang sujud di akhir shalat saya..

“Allah..berikan pertolongan-Mu..” Pinta saya.. berharap akan ada keajaiban, berharap tiba-tiba langit terang dan hujan reda.. T_T

Saya melipat mukena dengan hati gundah, menatap ke luar dengan hampa mendapati hujan yang justru semakin besar, jam dinding mushola menunjukkan pukul 15:20.. Huufh.. Mau nangis rasanya. Lemes..

Saya segera keluar dari mushola, mengingat hajat saya agar tidak basah kuyup sampai waktu sidang, saya reflek merogoh kantong melihat kotak amal di pintu mushola itu. Menyisipkan selembar uang kertas yang saya lipat kecil. (Astaghfirullah, semoga hati saya bersih dari riya dan Allah tidak menggugurkan amalan saya tersebut).

Saya melangkah dan berdiri di teras mushola.. “Allahu Akbar..” Saya membatin, darah saya berdesir, terkejut. Seorang anak perempuan kecil melintas di depan mushola dengan payungnya. Serta merta saya memanggilnya, dan dia pun menghampiri saya..

“Dik.. kamu mau kemana?”
“Mau pulang kak..”
“Ehmm.. Boleh ngga kakak pinjem payungnya?”
“Boleh kak..”
“Alhamdulillah.. nama kamu siapa? Rumahnya dimana? Biar kakak antar kamu pulang dulu ya”
“yang itu kak..” dia menunjuk sebuah rumah yang jaraknya hanya lima meter dari mushola.

Sungguh benar-benar di luar dugaan. Allah selalu punya jalan keluar yang terkadang sukar dicerna nalar.. Alhamdulillah.. saya tidak perlu basah kuyup dan bisa hadir tepat waktu.. ^_^

Saya jadi semakin yakin bahwa dimensi non-logis itu betul-betul eksis ;-)

Tuesday, September 21, 2010

Bercita-Citalah

Jangan pedulikan apa yang orang katakan tentang apa yang kau cita-citakan. Jangan permasalahkan bila mereka tidak menghiraukan bahkan memandang sebelah mata cita-citamu. Pun jika mereka meragukan kemampuanmu untuk meraihnya. Tiap-tiap apa yang mereka pikirkan, katakan, ragukan tentang cita-citamu sama sekali tidak memiliki andil apapun dalam pencapaian cita-cita itu. Kamu lah yang paling tahu apa yang kamu mau. Perkara itu adalah hal yang salah atau benar, mudah atau sukar, kamu dibekali akal, pikiran, dan kemampuan untuk memilah dan memutuskannya, dan kelak kamu sendirilah yang akan mengecap hasilnya. Ingatlah bahwa hidup adalah pilihan dan setiap pilihan selalu datang bersama resiko-resikonya. Faktor-faktor eksternal yang datang dari orang-orang di sekitarmu itu bisa saja menjadi masukan untukmu, tapi jangan jadikan sugesti. Tanyakan pada hatimu dan cernalah dengan pikiranmu.

Jika kamu tidak atau belum memiliki cita-cita, maka bercita-citalah.. Atau mungkin kau melupakan apa sebenarnya yang sempat kau cita-citakan, maka mulai berpikirlah untuk kembali mencita-citakannya lantas kembali berjuang untuk mewujudkannya menjadi nyata.. Coba pikirkanlah. Apa artinya hidup tanpa cita-cita? Tragedi. Yaa.. Tragedi.

Wednesday, September 1, 2010

[Berkah Ramadhan] Alhamdulillah.. Saya Tidak Jadi ke Makasar

“Agar pedihnya ujian terasa ringan, hendaklah engkau tahu bahwa Allah-lah yang mengujimu. Yang Menimpakan takdir-Nya kepadamu adalah juga Yang biasa Memberimu sebagus-bagusnya pilihan..”

21 Agustus 2009 (Ramadhan 1430H)

Genap satu minggu setelah Bapak berpulang ke rahmatullah. Anggaplah itu adalah fase kehidupan bagi setiap manusia, dan giliran saya kehilangan salah satu orang terkasih saya adalah pada satu minggu sebelum hari itu. Itu hanya sekedar sebait prolog yang mengawali tulisan saya kali ini. Saya tidak ingin berlama-lama bersedih, karenanya saya putuskan untuk mengaktualisasikan diri dengan kembali bekerja seperti biasa.

Di kantor semua berjalan seperti biasa. Saya bekerja sebagai partner/ third party dalam sebuah life network sebuah operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Karena beban pekerjaan yang lumayan banyak mengejar target Hari Raya idul fitri, seorang rekan yang bersimpati dengan keadaan saya, yang juga khawatir saya masih dalam suasana berkabung, berniat baik membantu saya menyelesaikannya, maka saya pun berbagi user account untuk mengakses life network tersebut. Dan ketika itu pula, sebuah kejadian mengejutkan lain yang sama sekali tidak diharapkan kembali berulang.

Singkatnya, kejadian tersebut memberikan kerugian bagi perusahaan. Tidak penting siapa yang salah, mengapa bisa salah, dan apa yang dipersalahkan, sebab penilaian manusia hanya akan bersifat menyudutkan, tidak memberikan solusi justru sebaliknya makin memperkeruh suasana, maka biarlah Allah saja yang berhak memberi penilaian. Namun karena user account itu adalah kepunyaan saya, maka di sinilah saya yang mendadak dalam waktu singkat menjadi artis yang langsung ‘populer’. Bahkan sampai meninggalkan ‘kesan’ yang cukup membekas pada ingatan salah seorang bos besarnya. Sebut saja Mr.E..

23 Ramadhan 1431H

Hari ini, Ramadhan tahun berikutnya setelah kejadian itu..

“Saya tidak tahu ini kenekatan macam apa.. sederhananya, saya cuma kepingin seperti air yang menjadi jernih karena mengalir..”

Terinspirasi dari sajak milik imam Syafi’I sekaligus kepenatan dan kejenuhan dalam pekerjaan membuat saya berani memutuskan untuk berhijrah ke pulau seberang. Meninggalkan zona nyaman saya.

Mendapati tawaran pekerjaan di Makasar membuat saya senang bukan kepalang. Lama saya memikirkan hal ini, berdo’a pada Allah untuk memberikan kemudahan bagi saya untuk menyelesaikan semua urusan sebelum saya benar-benar terbang, berharap tidak ada kendala dengan membatalkan kesepakatan cuti dengan seorang rekan tandem saya, berharap tidak ada aral yang berarti dengan keputusan mengundurkan diri, berdoa agar seminar pra-sidang saya tidak perlu lagi banyak revisi. Namun tetap, saya menyadari ketidaksempurna’an saya sebagai manusia. Maka di akhir do’a, setelah mendeklarasikan semua list permintaan saya kepada Allah, saya kembali memasrahkan semua pilihan pada-Nya.. Allah Maha Mengetahui semua kebutuhan hamba-Nya, maka dengan segala kerendahan hati, saya memohon.. “Allah yaa Rabb.. Pilihkan apa yang menurut-Mu terbaik buatku.. dan bimbing aku untuk mengikhlaskan apa yang kelak Engkau pilihkan..”

Astaghfirullah, semoga Allah tidak menggolongkan saya ke dalam kumpulan orang-orang yang takabur. Sebab saya ingat betul, ketika HRD Perusahaan yang menawarkan pekerjaan di Makasar mengatakan saya sudah 100% diterima dan akan segera diberangkatkan, cepat-cepat saya beristighfar dan meralat dalam hati, kepastian itu nilainya Cuma 98%, dan ketika seorang teman bertanya, apa yang 2%? Dengan mantap saya menjawab, itu adalah hak preogratif Allah.

Berbekal keyakinan, restu orang tua, do’a, serta kemudahan yang Allah berikan, pagi kemarin lusa saya resmi menandatangani kontrak baru di perusahaan itu. Sorenya saya mengadakan acara buka puasa bersama sebagai wujud rasa syukur atas semua kemudahan yang benar-benar di luar prasangka saya. Benar jika memang Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Do’a. Sungguh, saya merasa kurang nyaman menyebutnya sebagai farewell party (sepertinya memang sudah firasat).

Sampai pada malam harinya, ketika saya sedang packing untuk keberangkatan saya besok, saya baru teringat kalau hape saya mati sore tadi. Saya menyalakannya dan mendapati delapan sms mampir di inbox saya, lima di antranya dari HRD. Saya membalas salah satunya. Tidak lama ia langsung menghubungi saya, dan mengabarkan kalau kontrak kerja saya dicancel. Terkejut? Shock? Pasti.. Usut punya usut, ternyata end-user di Makasar sana adalah Mr. E yang dipindahtugaskan ke area. Dan beliau tidak ingin melibatkan saya lagi di setiap projectnya…

Ya sudahlah.. *Bondan Prakoso mode ON*

Apa yang terjadi ini di luar kuasa saya sebagai manusia. Ini adalah 2% nya Allah. Allah sudah mengatur semuanya untuk saya. Saya berusaha keras mentralisir perasaan saya. Tapi bagaimanapun saya berusaha menjejali pikiran saya dengan pelbagai hal positif, tetap, saya hanya manusia biasa.. Saya tidak bisa mengendalikan dada saya yang kemudian menjadi sesak dan mata saya yang terasa lebih panas dari biasanya. Bagaimana cara menyampaikan ini kepada ibu saya, kepada adik saya yang sudah kembali bersemangat ingin kuliah.. Saya percaya, reaksi mereka akan baik-baik saja jika mereka bisa melihat saya baik-baik saja dan tetap sebersemangat biasanya..

Untung saja saya sedang berada dalam masa ‘cuti’ dari semua ibadah yang wajib. Maka saya gunakan kesempatan itu untuk terpuruk, merenungi, dan mencari hikmah dari semua ini.. Sebuah musibah bisa jadi sebagai suatu bentuk teguran, namun bisa juga sebagai bentuk ujian..

Sebuah pesan dari seorang sahabat kembali menguatkan saya..

“Seandainya kejadian ini adalah bentuk teguran Allah, semoga lu bisa belajar banyak dari ini. Seandainya kejadian ini untuk menaikan derajat lu di mata Allah sebagai manusia, gw doakan semoga nanti lu bisa berhasil dan bisa menjadi berkah bagi dirilu dan orang2 di sekelilinglu. Seandainya kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Allah ke lu, semoga lu bisa lebih sayang lagi sama DIA ketika ini semua selesai.”

Maka, saya lebih memilih untuk berprasangka baik pada Allah. Mudah-mudahan ini salah satu cara Allah menunjukkan rasa cemburu-Nya. Ditandatanganinya kontrak di atas materai itu dengan sendirinya secara sah saya berhak memperoleh biaya kompensasi sebesar satu bulan gaji untuk pemutusan hubungan kerja tanpa suatu sebab seperti ini. Saya sudah menyampaikan hal ini pada HRD. Pun ketika mereka tidak menunaikan apa yang menjadi hak saya, maka biarkan Allah yang mengkalkulasinya. Apalagi mengingat ini bulan Ramadhan. Darah saya berdesir menyadari hal ini. Perhitungan ini terlalu rumit dan complex untuk otak manusia saya. Bahkan Allah memberikan saya kesempatan untuk menjamu-Nya di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Maka di sinilah ujian yang sesungguhnya. Apakah saya akan tetap terpuruk dengan kehilangan ini? Apakah saya bisa memanfaatkan atau malah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya? Atau barangkali, apakah saya akan menjadi kikir dan bakhil setelah kehilangan ini? Apakah saya akan menjadi pesimis dan menjadi rendah diri? Pilihan-pilihan itu ada di tangan saya. Saya percaya, Allah telah mempersiapkan ladang-Nya di depan sana untuk saya. Sama seperti ladang ini yang telah dipersiapkan-Nya semenjak tahun kemarin. Jadi, tidak perlu khawatir. Subhanallah.. Walhamdulillah.. Wa Laa ila hailallah.. Allahu Akbar.. Tak sabar rasanya untuk menunggu cuti ini selesai..

Ternyata.. Ikhlas, Sabar, dan Bersyukur nggak semudah mengucapkannya yaa..

Tuesday, August 17, 2010

Surat Buat Bapak

5 Ramadhan 1431H

Assalamu'alaikum Bapak..

Entah darimana ananda harus memulainya, yang pasti saat ini ananda sedang rindu sekali pada Bapak. Setahun sudah Bapak pergi meninggalkan kami, dua ramadhan sudah Bapak bersemayam di sana seorang diri. Maafkan ananda Pak.. Hanya rangkaian Al Fatihah beriring do'a selepas sujud akhir ananda yang bisa ananda haturkan untuk Bapak. Berharap itu cukup menemani kesendirian Bapak di sana. Tiada putusnya ananda meminta pada Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan Do'a..

Semoga Allah Yang Maha Pengampun berkenan mengampuni dosa-dosa Bapak,
Menerima semua amal ibadah Bapak,
Berkenan melipatgandakan pahalanya dengan segala ke-Maha Pemurahan-Nya,
Melapangkan dan menerangkan kubur Bapak dengan nur-Nya yang benderang..
Menjauhkan siksa kubur bagi Bapak,
Senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya untuk Bapak..
Aamin..

Sungguh betapa do'a dan air mata tak pernah cukup mengobati rasa rindu dan penyesalan ananda. Maafkan ananda yang belum sempat membahagiakan Bapak, maafkan ananda yang sering membuat Bapak kesal dan menahan marah, maafkan ananda yang belum sempat mewujudkan cita-cita kita menjadi nyata, maafkan ananda yang tak pernah cukup kuat untuk tidak menangis setiap kali ananda mengingat Bapak, ananda jadi lebih cengeng sejak Bapak pergi, ananda terbiasa dengan Bapak yang selalu ada menguatkan ananda..
Tahukah Bapak? Sepi sekali rasanya dunia ini tanpa Bapak. Kosong. Tak ada lagi yang tanpa banyak bicara dengan setia mendengar celotehan ananda, tidak protes dengan nyanyian sumbang ananda, cuma Bapak yang punya cerita yang sama sekali tidak lucu tetapi sukses membuat ananda tertawa, Bapaklah tempat biasanya ananda bertanya, Bapak yang selalu bisa memberi garansi 'semua akan baik-baik saja'..
Bapak.. Ananda kangen sekali. Kangen saat ibu bergantian menyuapi kita semua. Kangen bersandar dan mendengar bunyi perut buncit Bapak. Kangen melihat Bapak berjoged india. Kangen salim sama Bapak. Kangen ngesun pipi Bapak. Kangenn.. Kangenn.. Kangeeennnnn...

Banyak sekali hal yang ingin ananda ceritakan pada Bapak..
Tentang Ibu dan adik-adik..
Tentang betapa tegarnya ibu mengasuh kami sendirian tanpa Bapak..
Tentang beliau yang ananda dapati sedang diam-diam merasa kesepian..
Tentang sulitnya menjadi kakak, mengambil alih sebagian tugas Bapak yang tidak lantas menjadi lebih mudah walau hanya sepersepuluh bagiannya saja,
Tentang perasaan-perasaan terbaik,
Tentang bagaimana harus bisa bahagia untuk melihat mereka yang kita cintai turut berbahagia karena melihat kita bahagia,
Tentang lelahnya berlari mengejar waktu, terperangkap dalam ketidaktahuan ananda tentang berapa lama waktu tersisa yang ananda punya..
Tapi Bapak tak perlu gundah,
Ananda tak akan menyerah sekalipun lelah berkali-kali singgah..

Insya Allah ananda ikhlas dengan ini, dengan semua ketetapan Allah, mengimani bahwa inilah jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk kita.. Mempercayakan Allah untuk menjaga Bapak selagi ananda tak mampu melakukannya.. Semoga kerinduan ini menjadi pengikat kita selamanya.. Sekaligus menjadi cara Allah membimbing ananda untuk dekat dengan-Nya, untuk selalu berserah dan berpasrah..

Sudah malam Pak.. Ananda tak ingin menangis lagi seperti kemarin ketika memulai menulis surat ini. Ibu tampak bertanya-tanya melihat mata ananda yang bengkak sewaktu sahur tadi pagi. Ananda tak mau membuat beliau khawatir lagi.. Sudah dulu yaa..

Wassalamu'alaikum..



Ananda yang selalu kangen sama Bapak
Aizzah

Wednesday, July 21, 2010

Cita-Cita yang Sederhana

Ketika cita-cita sesederhana menjadi seorang ibu rumah tangga biasa menjadi begitu langka dan sulit sekali terlaksana.. Ketika begitu sedikit dari mereka yang bercita-cita jadi ibu rumah tangga seutuhnya.. Maka dengan seizin Mu Yaa Rabb.. Perkenankanlah saya menjadi bagian dari yang sedikit itu.. Aamin”

Ketika menulis catatan ini saya adalah seorang remaja yang berada dalam masa peralihannya menjadi seorang wanita dewasa, sedang menuntaskan tugas akhirnya di sebuah perguruan tinggi swasta kelas karyawan dan tinggal selangkah lagi menjadi sarjana, seorang wanita yang berada pada masa gemilangnya dalam meniti karir, bekerja di tempat yang baik dengan penghasilan yang sangat baik, anak perempuan yang membanggakan, kakak yang walaupun tidak terang-terangan dinantikan tetapi selalu dirindukan dan menjadi panutan, sahabat yang hangat, teman yang menyenangkan, rekan kerja yang walaupun sering datang terlambat tetapi selalu dimaafkan karena rajin membawa makanan.. Entah semua itu benar adanya atau tidak. Yang jelas saya selalu percaya pada insting dan bagaimana cara hati membawa saya untuk merasa..

Sepintas, semua yang saya miliki, kehidupan saya yang nyaris begitu sempurna, adalah apa yang sebagian perempuan jaman sekarang impikan. Karir, pendidikan, keluarga, teman. Saya amat sangat bersyukur dengan keadaan saya. Semua yang Allah titipkan pada saya sekarang adalah apa yang dahulu pernah saya cita-citakan. Alhamdulillah.. Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dan membimbing bagaimana harus menyikapi begitu banyak cita-cita yang terlaksana menjadi nyata ini dengan baik dan bijaksana.. Saya jadi teringat kutipan dari seorang ustadzah..

“Muslimah yang berjuang dalam kebaikan adalah mereka yang selalu to be continued.. berkelanjutan dan terus menerus..”

.

Kemudian saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan sederhana..

“Apa cita-cita saya berikutnya?”

Di sinilah, di usia saya yang masih belum genap dua puluh dua tahun, saya merasa jadi lebih tua karena sepertiga partisi dari otak saya didominasi sesuatu yang sedang saya pertimbangkan untuk menjadi cita-cita saya di masa yang akan datang. Menjadi seorang ibu rumah tangga saja. Sederhana. Sepertinya mudah, tetapi entah dari sudut pandang mana saya menilainya, sekedar membayangkannya saja sulit sekali rasanya. Padahal pada hakikatnya, rumah tangga adalah ladang pahala yang sangat luas bagi seorang wanita.

Semuanya tidak lagi membanggakan ketika untuk memiliki cita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa dan seutuhnya mengabdikan diri kepada keluarga saja, saya butuh waktu yang cukup lama untuk menimbang, malah bimbang, bahkan gamang..

Pelan-pelan mimpi itu bergumul dalam pikiran saya..

Menyediakan bekal untuk suami tercinta, memberikan rumah yang bersih dan nyaman sepulangnya, pakaian yang bersih, wangi, dan tersetrika rapih.. Betapa membahagiakannya bila saya bisa mengerjakannya sendiri, tanpa bergantung pada si 'Mbak'. Sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan cemburu jika suami lebih menyukai dan menikmati masakan si Mbak.. L

Menjaga calon buah hati kami, membekalinya dengan gizi dan pendidikan yang baik bahkan jauh sebelum kelahirannya, mengenalkannya pada rangkaian hijaiyah, membacakannya cerita, mengobrol dengannya, ikut membangunkannya di waktu subuh..

Saya tidak ingin kehilangan moment-moment penting dalam sembilan bulan itu.. Tidak ingin menyia-nyiakan dan membiarkannya berlalu begitu saja karena kesibukan saya bekerja.. Saya tidak ingin hanya disibukkan mempersiapkan popok, baju, dan alas tidurnya.. Saya ingin sibuk mempersiapkan kesiapannya menjadi seorang manusia..

Dan ketika Allah mengizinkan ia lahir ke dunia,

Betapa tidak inginnya cuti tiga bulan yang diberikan perusahaan kepada saya membatasi kebahagiaan saya, saya tidak ingin rutinitas menyusuinya, memandikan, mengganti popoknya, berlangsung rutin hanya dalam tiga bulan saja. Saya tidak ingin kehilangan 8 jam dalam sehari dengan tidak melihat ia tumbuh besar dan pintar. Saya tidak ingin kehilangan menyaksikan langkah pertamanya..

Namun dengan intensitas yang sama, kekhawatiran yang lain juga hadir menyertainya..

Bagaimana jika kelak saya berjodoh dengan seseorang yang biasa saja? Bukan mereka yang berpenghasilan “wah” tiap bulannya? Biaya perlengkapan anak, susu, dan pendidikan jaman sekarang kan mahal? Lantas bagaimana dengan kehidupan sosial yang saya tinggal di luar sana? Lantas bagaimana jika (Naudzubillahi Min Dzaalika) suami yang saya tercinta berpulang ke rahmatullah di waktu yang tidak saya duga sebelumnya, sedangkan saya harus menggantikannya sebagai kepala keluarga?

No Execuse!! Allah telah menentukan dan mengatur jodoh, rizki, dan maut bagi tiap-tiap kita. Banyak cara untuk mengupayakan rizki yang disebar-Nya di seluruh muka bumi ini. Niat yang baik akan beriring dengan hasil yang baik Insya Allah. Rumah adalah sekolah dan madrasah paling murah bagi anak-anak kita, dan baik tidaknya kualitas pendidikan yang mereka terima itu bergantung pada kita, orang tua mereka. Maka bersemangatlah, Allah menghadirkan masalah berpasangan dengan solusinya. Pasti.

Semoga Allah memberikan kemantapan hati jika cita-cita itu bukan sesuatu yang salah..

Menjadikannya tidak sebatas pada keinginan, tetapi juga kebutuhan

Semoga Allah memperkenankan cita-cita sederhana saya menjadi nyata..

Meridhoinya dan menjadikannya jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk saya

Memberi kemudahan bagi kami untuk melalui aral-melintangnya..

Percaya bahwa Allah akan menjaga dan memelihara apa yang menjadi kepunyaan-Nya

Percaya bahwa berkarya menjemput rezeki-Nya bisa dimana saja

Percaya bahwa tidak ada sandaran hidup yang lebih baik selain Allah



** I love you my kids.. a long long far away before I met your father.. miss you already..




Sunday, July 18, 2010

Ketika Aku Begitu Menginginkanmu..

Aku merupamu dalam kanvas imajinasiku
Bukan rupawan, tapi tetap menawan
Jenaka, tapi tetap bijaksana dan bersahaja
Kamu dengan segala kerendahan hatimu
Dengan kesederhanaan batinmu
Santun dalam tutur kata
Patuh pada tiap diktum agama
Kamu yang diam-diam selalu aku selipkan dalam tiap-tiap doaku
Allah, jadikan ia nyata.. Jadikan ia ada..

Sungguh tak ada Dzat Yang Maha Kuasa selain Engkau yaa Alloh..

Desir itu hadir..
Degup itu meletup..
Perasaan-perasaan tak terjelaskan
Asa tak bernama namun terasa
Padamu yang telah dijadikan-Nya ada
Padamu yang dijadikan-Nya nyata
Kamu ada dan nyata
Kamu istimewa
Dan aku memujamu di luar mauku

Aku tergoda ingin mencintaimu
Aku tergoda ingin merindumu
Aku tergoda menginginkanmu

Hanya saja..
Hati yang selalu kupercaya pada caranya membawaku untuk merasa,
Sekali lagi membimbingku untuk tidak tergoda pada semua mau itu..
Kini debar itu hambar
Asa itu meniada
Aku bukan kalah atau menyerah
Aku sadar dan belajar berjiwa besar
Aku harus bersabar..


Mungkin..
Aku menginginkanmu yang begitu istimewa dalam rencana dan anganku..
Tapi sepertinya..
Aku lebih membutuhkan ia yang biasa saja..
Ia yang menggenapkanku atas eksistensinya
Ia yang diam-diam menyelipkanku dalam tiap doanya
Ia yang menginginkanku dan menjadikanku kebutuhannya
Ia yang mampu mencerna ketidaksempurnaanku pada sesuatu yang nyaris sempurna
Ia yang membuat kata cinta menjadi terlalu biasa dan sederhana untuk menjabarkan apa yang dirasakannya

Ia yang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjelaskannya,
tanpa aku tahu siapa dan bagaimana ia,
ia sudah di sana..
tertulis bersama hidup, mati, dan rizkiku..
Jauh ketika aku bersemayam dalam rahim ibuku..
Ia lah jodohku,,


Maka yaa Rabb..
Atas izin dan ridha-Mu..
Persiapkan ia yang terbaik mnurut-Mu buatku
Cukupkan aku atas ia..
Jadikan aku layak untuknya
Jaga mata dan hatiku darinya yang bukan ia..
Bimbing aku menyimpan rindu dan cintaku yang 'itu' hanya untuknya..
Kelak sampai tiba saatnya, Insya Alloh..


Jakarta, 17-07-2010

Sedikit Tentang Manusia dan Hidup

Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi perlu diingat bahwa manusia adalah mahluk Alloh yang paling sempurna. No Execuse! Ketidaksempurnaan sebagai manusia bukan alasan untuk tidak menunaikan fitroh kita sebagai mahluk sempurna yang bahagia dan tidak melulu mengeluh. Gunakan hati dan akal yang menyempurnakan kita sebagai makhluk dengan bijak.. Tidak mudah, tetapi bisa. Pelan-pelan saja.. Pembelajaran itu butuh proses.. Proses itu butuh waktu.. Jika ternyata prosesnya lama.. Jangan mudah putus asa.. Jangan gampang menyerah.. bersabarlah dan terus berusaha.. Jika prosesnya sebentar.. maka bersyukurlah. Karena pada dasarnya, dengan mengabaikan satuan waktu, lama-sebentarnya waktu berproses itu berbeda pada tiap manusia.. Nikmati saja setiap detailnya.. ~ orang yang sukses adalah mereka yang menghargai proses dan to be continued.. berkelanjutan dan terus menerus.. ~


Mungkin hidup tidak selamanya memberikan apa yang kita inginkan. Tapi cobalah lihat sekitar. Begitu banyak hal yang kita butuhkan tersedia ada di depan mata, hanya saja kita tidak akan bisa menemukannya jika kita tidak jeli melihatnya. Mungkin kamu merasa jengkel setiap kali adikmu begitu susah diatur. Membuat kamarmu yang begitu susah payah kau rapikan dan bersihkan menjadi sangat berantakan. Kamu menyadari bahwa memarahinya pun tidak akan mengubah apa-apa. Tapi apakah kamu juga sadar bahwa sebenarnya kau membutuhkan adikmu yang begitu nakal itu untuk membuatmu bisa belajar untuk jauh lebih bersabar dan bijaksana. Bahwa yang terberat harus kau lalui bukanlah adikmu, tetapi justru dirimu sendiri. Bagaimana agar emosimu tidak menguras tenagamu sia-sia dengan marah-marah. ~There are so many ways to express your feelings, many smarter and wiser ways to express your emotion and anger. Not only to set you free from your burden, but also to make somebody else be a better human being.~

Saturday, June 26, 2010

Lagu India dan Pak Damir

Suatu ketika, di sela-sela jam kerja.. Tanpa sadar saya menyanyikan dua bait lirik lagu India yang kebetulan saat itu melintas di kepala saya.. Saya hafal liriknya yang tentu saja dinyanyikan dalam bahasa Hindi, teman saya yang seorang india pun mengakui bahwa saya piawai membawakan lagu asal negaranya itu. Bisa jadi kalau orang tidak melihat siapa yang menyanyi, pasti mereka akan berfikir kalau orang India aslilah yang sedang menyanyikan lagu itu..

"Aizzah.. Kamu berbakat lho.. Kok bisa sih hafal lirik lagu india begitu.." Pak Damir salah seorang rekan kerja yang ketika itu duduk di samping saya berkomentar.
"Ahh.. biasa aja kok Pak.." Saya tersipu malu
"Pintar menghafal kamu itu lho.. Lebih bagus lagi kalo dipakai buat menghafal Al Qur'an.." Lanjutnya lagi sambil tetap fokus pada laptopny..

Degg!!

Hening

Dilema fulltime house wife.. fulltime mother..

 Bismillah,   menjadi full ibu rumah tangga sebenernya sudah jadi cita-cita jadi jaman baheula selagi masih gadis.. Bahkan mimpi itu pernah ...