Tuesday, September 28, 2010

Finally.. I did it.. I ended it..

*lalumpatan...jumpalitan..kelojotan..kegirangan...*

Assalamu'alaikum..

Alhamdulillahi rabbil alamin.. Segala puji dan syukur dhumateng Gusti Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam senantiasa tercurah bagi junjungan kita Baginda Kanjeng Nabi Rasulullah Muhammad SAW, para keluarga, beserta shahabatnya..

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Sepertinya ribuan tahmid sekalipun tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya saya hari ini. Hari dimana pagi tadi, perjalanan saya ber-mio ke kampus tidak seperti biasanya, penuh debar dan kesibukan menerka-nerka akan bagaimana nanti saya menutup hari ini. And here I'm.. Menulis sebuah catatan tentang segelintir kisah bagaimana Allah telah mengatur segala sesuatunya dengan sangat sempurna.. dengan indah.. dan tepat pada waktunya.. :-)

Singkat cerita, sore tadi para dosen penguji sepakat meluluskan saya dalam sidang skripsi, yang berarti beban yg tersisa hanya tinggal membuat sedikit revisi dan mengumpulkan naskah skripsinya. Sungguh saya tidak pernah benar-benar bekerja sendiri untuk semua pencapaian ini. Karenanya, melalui catatan ini, dengan segala kerendahan hati saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua rekan-rekan yang di antaranya adalah:

  • Hady Hubaydillah dan Dinar Syilla.. Duo marshmallow berinti titanium. Ganjil-ganjil yang saling menggenapkan.. You know I always be grateful having you both as my best-est. Thank you for loving me, thank you for every moment we spent together, thank you for every magic words you spelled on me.. and many other I couldn’t mention here..
  • Teh susi, Mas Hendra, Mbak Marsel, Mbak Dita, dan rekan-rekan OSS lainnya di MM04.. Makasih..makasih..makasih buat kompornya, buat contekan tugas akhirnya, buat data-datanya..
  • Mas Endro, pembimbing lapangankuuu.. makasih banyak yaahh.. Berhubung sekarang kita jauh, aizz nyanyiin lagu kesukaannya mas endro aja dari sini yaa sbg tanda terima kasih.. Ready? Wan,,tu,,tri,, 'egepe-egepe sori-sori aje emangnye lo pikir elo siape.. Cinta satu malam oh indahnya.. Cinta satu malam buatku melayang.. Walau satu malam akan slalu kukenang..' *sambil godeg-godeg, joged-joged, + goyang jempol*
  • Rani Rachmawati, Mardi Martadinata, Deswara Aji, Cikal Wahyudi, Mas Jaya, Pak Sumar, Pak Gunadi.. Makasih banyak dah nungguin selama sidang yaa.. Maaf jadi membuat kalian kehujanan dan pulang kemalaman..
  • Mas Duta.. Makasih buat pinjeman Black-Jacket nya yaa.. Aizz cuci dan setrika dulu, balikinnya minggu depan yaa :-P
  • Brilly.. Si kecil yang tinggal di belakang kampus yg sudah dengan baik hati meminjamkan payungnya.. Suwun ya nduk..
  • Ahmad Royhan... Yeaayy.. Gw nyusuuuull.. Bener kata lu, ternyata sidang tak semenyeramkan yg gw khawatirkan.. :-P Makasih udah jauh2x dtg dr jogja buat ngebenerin printer gw doang yaa..(wkwkw..pdhl mah mau perpanjang KTP tuuh..)
  • Suryadi, Kak Rifki, Kak Ijal, Kak Yudi, Kak Denny, Pramana, Mas Tri, Mas Agus, Mas Lumut, dan Mas-masku yang lainnya.. ayolaaahh... Mari cepat-cepat kita selesaikan apa yg sudah sama-sama kita mulai empat tahun lalu..
  • Mas Fajar, Mas Luluk.. Suwun buat curhat dan share seputar tugas akhirnya..
  • Kang Uway.. Terima kasih banyak yaah buat semua-muanya.. buat semangatnyaa.. Ayoo jangan mau kalah.. ^_^
  • Dia Yang Belum Bisa Disebut Namanya,,, ow..ow..siapa diaa? Entahlah.. Terima kasih untuk eksistensimu yang walaupun masih abstrak tapi selalu menyenangkan untuk dibayangkan.. kamulah alasan terbesarku untuk cepat merampungkan ini semua.. JJJ
  • Last but not least, semua teman yang ga bisa aizz sebutkan satu per satu di sini. Terima kasih buat semua do’a, dukungan, semangat, dan nasihatnya..

Aizz membuat catatan ini bukan untuk berbangga-bangga, tapi untuk berterima kasih sekaligus berbagi rasa LEGA.. Plooongggg… Suweeerr.. *__*

Akhir kata.. Jazzakumullah Khairan Katsir.. ^_^

Wassalamu’alaikum


Ahad, 26 September 2010

Tuesday, September 21, 2010

Bercita-Citalah

Jangan pedulikan apa yang orang katakan tentang apa yang kau cita-citakan. Jangan permasalahkan bila mereka tidak menghiraukan bahkan memandang sebelah mata cita-citamu. Pun jika mereka meragukan kemampuanmu untuk meraihnya. Tiap-tiap apa yang mereka pikirkan, katakan, ragukan tentang cita-citamu sama sekali tidak memiliki andil apapun dalam pencapaian cita-cita itu. Kamu lah yang paling tahu apa yang kamu mau. Perkara itu adalah hal yang salah atau benar, mudah atau sukar, kamu dibekali akal, pikiran, dan kemampuan untuk memilah dan memutuskannya, dan kelak kamu sendirilah yang akan mengecap hasilnya. Ingatlah bahwa hidup adalah pilihan dan setiap pilihan selalu datang bersama resiko-resikonya. Faktor-faktor eksternal yang datang dari orang-orang di sekitarmu itu bisa saja menjadi masukan untukmu, tapi jangan jadikan sugesti. Tanyakan pada hatimu dan cernalah dengan pikiranmu.

Jika kamu tidak atau belum memiliki cita-cita, maka bercita-citalah.. Atau mungkin kau melupakan apa sebenarnya yang sempat kau cita-citakan, maka mulai berpikirlah untuk kembali mencita-citakannya lantas kembali berjuang untuk mewujudkannya menjadi nyata.. Coba pikirkanlah. Apa artinya hidup tanpa cita-cita? Tragedi. Yaa.. Tragedi.

Thursday, September 16, 2010

Pasangan Impian

"Masih ingat dengan teman Pak Le yang tempo hari Pak Le ajak ke rumahmu?" Pak Le berujar membuka percakapan di antara kami.

"Ehm.. Mas Acip?" aku mencoba mengingat nama orang yg Pak Le maksud tersebut.

"Iya, dia orang yang pengen Pak Le kenalin ke kamu. Yaa Pak Le sih cuma mau ngenalin thok.."

Aku tidak bereaksi. Aku mempersiapkan diri untuk lebih berhati-hati dengan apa yg akan aku katakan pada Pak Le berikutnya. Memang aku sendiri yang tidak menolak ketika beberapa waktu lalu Pak Le bermaksud mengenalkanku pada seseorang..

"Ooohh.. " aku menyambutnya datar.

"Iya.. Si Acip itu anaknya baik. Orang tuanya minta tolong Pak Le untuk nyariin dia istri. Dan dia pun mau saja kalau calonnya itu bisa sayang sama orang tuanya.." Pak Le berujar..

Aku hanya diam menunggu Pak Le selesai dengan apa yang ingin disampaikannya.

"Umurnya sekitar 31 tahun. S1 dari perguruan tinggi di Jogjakarta. Dia orangnya pendiam, tidak pernah pacaran. Dari semua saudaranya yang lain, Acep itu yang paling ganteng lohh. Orang tuanya itu Juragan Bakso di Klender sana. Sudah punya beberapa pintu kontrakan sebagai penghasilan tambahan, sudah punya rumah sendiri di Jakarta. Sedangkan si Acip sendiri, sudah dimodalin bengkel sama orang tuanya. Bengkel yang dikelolanya lumayan ramai. Di kampung sini juga mereka sudah punya rumah. Pokoknya, si Acip pengen usaha apa aja, orang tuanya bersedia memfasilitasi.."

Hatiku seperti diremas. Dari sebegitu panjangnya uraian yg diberikan Pak Le, point paling penting yang aku tunggu-tunggu tak kunjung keluar dari mulut Pak Le. Tapi aku masih menunggu, masih banyak yang ingin Pak Le sampaikan lagi sepertinya..

"Acip itu ngga neko-neko cari istrinya. Sing penting sayang dan perhatian sama orang tuanya. Dia tidak masalah dengan kamu. Makanya dia mau pastikan dulu kalau orang tuanya juga cocok sama kamu. Mendengar cerita tentang kamu juga orang tuanya sangat antusias pengen liat kamu. Makanya, kalau nanti ada kesempatan, ayo kita makan bakso di tempatnya si Acip. Biar orang tuanya Acip bisa melihat kamu juga dan menilai sendiri.."

Huuufhh.. Aku masih datar.. Pak Le sudah berhenti dan tampaknya beliau menunggu reaksiku. Dan sepertinya sia-sia menunggu Pak Le memberikan ulasan yang aku harapkan jika aku tidak menanyakannya secara langsung.

"Ehm.. Pak Le.. Bagaimana dengan sholatnya?"

"Sholatnya rajin kok.. Baca Qur'an juga.." Pak Le terdengar agak terburu-buru dengan jawaban itu.. Entahlah.. Caranya menjawab membuatku tidak cukup yakin seratus persen..

Kami sama-sama terdiam sebentar, lalu aku memberanikan diri bertanya pada Pak Le..

"Pak Le.. Kenapa sih yang Pak Le promosikan tentang Mas Acip ini lebih dominan tentang kondisi materi dan status sosialnya? Memangnya aku keliatan seperti wanita yang matrealistis ya Pak Le?"

"Yo ndak toh nduk.. Cuman melihat ibumu yang berpendidikan, guru, dan pegawai negeri, juga kamu yang Pak Le perhatikan cukup selektif, ya paling tidak kan masalah itu akan lumayan jd bahan pertimbangan tho yo?"

"Ahh Pak Le.. Boleh jadi aku ini agak naive kalo soal itu. Aku cuma kepingin yang agamanya baik, sholatnya tepat waktu. Sederhananya, yang sholeh dan berilmu. Sing bisa jadi imam. Itu saja Pak Le.. Aku tuh kepingin calon anak-anak kami nanti lahir, tumbuh, dan besar dalam keluarga yang islami.."

"dan yang single pastinya ya Pak Le.." cepat-cepat aku menambahkan sambil menyeringai bergurau.

Huufhh..

Aku menunduk menyadari keinginanku yang terlalu muluk.. Arah pandanganku mengawang.. Tanpa berani menatap Pak Le aku kembali berujar..

"Mungkin keinginanku itu terlalu muluk ya Pak Le.. Bukan.. Sungguh bukan karena aku merasa ibadahku sudah baik, atau aku merasa sudah cukup sholeha untuk bisa merasa layak mendapatkan yang seperti itu. Tapi justru karena aku sadar, aku tidak tumbuh dan besar dengan pendidikan agama yang cukup baik. Pengetahuanku tentang islam cethek banget. Aku kepingin seseorang yang bisa membimbing aku belajar Le.."

Aku tersenyum getir dan membatin, 'Kalau saja Pak Le tau betapa tidak percaya dirinya aku tentang keinginanku itu..' pun jika ada lelaki sholeh dan berilmu seperti itu, pastilah ia juga menginginkan wanita dengan kualitas yang sama sepertinya. Tak sekali-kali pun yang seperti aku ini menjadi wanita yang ia pertimbangkan untuk menjadi pilihannya.

Aku jadi salah tingkah tertangkap basah oleh Pak Le yang tersenyum mendapatiku yang tampak mendung. Aku cuma mesem..

"Nanti kalau sudah di Jakarta, bilang saja sama Pak Le kamu kapan sempatnya.."

"Nanti dulu lah Pak Le.. Aku belum tau bagaimana tata cara atau proses kapan seharusnya mesti ketemu orang tuanya calon pasangan. Lagipula aku sama mas Acip belum pernah berinteraksi secara langsung. Kalo langsung dipertemukan dengan orang tuanya sekarang-sekarang ini, sepertinya terlalu buru-buru dan kurang bijak. Walaupun sebentar, biarkan kami berproses saling mengenal dulu. Khawatir belum ada kecocokan, paling tidak kalau orang tua belum terlibat, tidak perlu banyak orang yang kecewa kalau akhirnya memang tidak jadi. Kalaupun nantinya cocok, sepertinya juga tetap butuh beberapa kali istikharah supaya bisa lebih mantap. Aku percaya, kalau memang jodoh pasti akan ada jalannya. Aku terima kasih banget loh sama niat baik Pak Le ini.." Aku tersenyum mantap. Paling tidak, itu adalah sikap terbaik yang bisa aku ambil saat ini.

Rejeki dan Jodoh memang dua hal yang sudah Allah persiapkan untuk masing-masing kita. Bergaransi. Pasti. Namun tidak seharusnya hal itu lantas membuat kita berpangku tangan, diam menunggu, dan menerima begitu saja tanpa memilah. Diam, hanya menunggu, dan menerima begitu saja bukanlah bentuk kepasrahan seorang hamba pada kehendak yang dipilihkan Tuhannya.

Semuanya itu adalah masih rahasia Allah. Dan cara kita menyikapi rahasia-rahasia Allah adalah dengan mengupayakannya melalui ikhtiyar. Berusaha, berdoa, meluruskan niat, mengupayakan yang terbaik dalam kapasitas kita sebagai manusia namun tetap menyerahkan hasil akhirnya pada Allah.. serta ikhlas pada sebaik-baik pilihan yang ditetapkan Allah pada kita..


Tegal 14 September 2010

Wednesday, September 1, 2010

[Berkah Ramadhan] Alhamdulillah.. Saya Tidak Jadi ke Makasar

“Agar pedihnya ujian terasa ringan, hendaklah engkau tahu bahwa Allah-lah yang mengujimu. Yang Menimpakan takdir-Nya kepadamu adalah juga Yang biasa Memberimu sebagus-bagusnya pilihan..”

21 Agustus 2009 (Ramadhan 1430H)

Genap satu minggu setelah Bapak berpulang ke rahmatullah. Anggaplah itu adalah fase kehidupan bagi setiap manusia, dan giliran saya kehilangan salah satu orang terkasih saya adalah pada satu minggu sebelum hari itu. Itu hanya sekedar sebait prolog yang mengawali tulisan saya kali ini. Saya tidak ingin berlama-lama bersedih, karenanya saya putuskan untuk mengaktualisasikan diri dengan kembali bekerja seperti biasa.

Di kantor semua berjalan seperti biasa. Saya bekerja sebagai partner/ third party dalam sebuah life network sebuah operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Karena beban pekerjaan yang lumayan banyak mengejar target Hari Raya idul fitri, seorang rekan yang bersimpati dengan keadaan saya, yang juga khawatir saya masih dalam suasana berkabung, berniat baik membantu saya menyelesaikannya, maka saya pun berbagi user account untuk mengakses life network tersebut. Dan ketika itu pula, sebuah kejadian mengejutkan lain yang sama sekali tidak diharapkan kembali berulang.

Singkatnya, kejadian tersebut memberikan kerugian bagi perusahaan. Tidak penting siapa yang salah, mengapa bisa salah, dan apa yang dipersalahkan, sebab penilaian manusia hanya akan bersifat menyudutkan, tidak memberikan solusi justru sebaliknya makin memperkeruh suasana, maka biarlah Allah saja yang berhak memberi penilaian. Namun karena user account itu adalah kepunyaan saya, maka di sinilah saya yang mendadak dalam waktu singkat menjadi artis yang langsung ‘populer’. Bahkan sampai meninggalkan ‘kesan’ yang cukup membekas pada ingatan salah seorang bos besarnya. Sebut saja Mr.E..

23 Ramadhan 1431H

Hari ini, Ramadhan tahun berikutnya setelah kejadian itu..

“Saya tidak tahu ini kenekatan macam apa.. sederhananya, saya cuma kepingin seperti air yang menjadi jernih karena mengalir..”

Terinspirasi dari sajak milik imam Syafi’I sekaligus kepenatan dan kejenuhan dalam pekerjaan membuat saya berani memutuskan untuk berhijrah ke pulau seberang. Meninggalkan zona nyaman saya.

Mendapati tawaran pekerjaan di Makasar membuat saya senang bukan kepalang. Lama saya memikirkan hal ini, berdo’a pada Allah untuk memberikan kemudahan bagi saya untuk menyelesaikan semua urusan sebelum saya benar-benar terbang, berharap tidak ada kendala dengan membatalkan kesepakatan cuti dengan seorang rekan tandem saya, berharap tidak ada aral yang berarti dengan keputusan mengundurkan diri, berdoa agar seminar pra-sidang saya tidak perlu lagi banyak revisi. Namun tetap, saya menyadari ketidaksempurna’an saya sebagai manusia. Maka di akhir do’a, setelah mendeklarasikan semua list permintaan saya kepada Allah, saya kembali memasrahkan semua pilihan pada-Nya.. Allah Maha Mengetahui semua kebutuhan hamba-Nya, maka dengan segala kerendahan hati, saya memohon.. “Allah yaa Rabb.. Pilihkan apa yang menurut-Mu terbaik buatku.. dan bimbing aku untuk mengikhlaskan apa yang kelak Engkau pilihkan..”

Astaghfirullah, semoga Allah tidak menggolongkan saya ke dalam kumpulan orang-orang yang takabur. Sebab saya ingat betul, ketika HRD Perusahaan yang menawarkan pekerjaan di Makasar mengatakan saya sudah 100% diterima dan akan segera diberangkatkan, cepat-cepat saya beristighfar dan meralat dalam hati, kepastian itu nilainya Cuma 98%, dan ketika seorang teman bertanya, apa yang 2%? Dengan mantap saya menjawab, itu adalah hak preogratif Allah.

Berbekal keyakinan, restu orang tua, do’a, serta kemudahan yang Allah berikan, pagi kemarin lusa saya resmi menandatangani kontrak baru di perusahaan itu. Sorenya saya mengadakan acara buka puasa bersama sebagai wujud rasa syukur atas semua kemudahan yang benar-benar di luar prasangka saya. Benar jika memang Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan Do’a. Sungguh, saya merasa kurang nyaman menyebutnya sebagai farewell party (sepertinya memang sudah firasat).

Sampai pada malam harinya, ketika saya sedang packing untuk keberangkatan saya besok, saya baru teringat kalau hape saya mati sore tadi. Saya menyalakannya dan mendapati delapan sms mampir di inbox saya, lima di antranya dari HRD. Saya membalas salah satunya. Tidak lama ia langsung menghubungi saya, dan mengabarkan kalau kontrak kerja saya dicancel. Terkejut? Shock? Pasti.. Usut punya usut, ternyata end-user di Makasar sana adalah Mr. E yang dipindahtugaskan ke area. Dan beliau tidak ingin melibatkan saya lagi di setiap projectnya…

Ya sudahlah.. *Bondan Prakoso mode ON*

Apa yang terjadi ini di luar kuasa saya sebagai manusia. Ini adalah 2% nya Allah. Allah sudah mengatur semuanya untuk saya. Saya berusaha keras mentralisir perasaan saya. Tapi bagaimanapun saya berusaha menjejali pikiran saya dengan pelbagai hal positif, tetap, saya hanya manusia biasa.. Saya tidak bisa mengendalikan dada saya yang kemudian menjadi sesak dan mata saya yang terasa lebih panas dari biasanya. Bagaimana cara menyampaikan ini kepada ibu saya, kepada adik saya yang sudah kembali bersemangat ingin kuliah.. Saya percaya, reaksi mereka akan baik-baik saja jika mereka bisa melihat saya baik-baik saja dan tetap sebersemangat biasanya..

Untung saja saya sedang berada dalam masa ‘cuti’ dari semua ibadah yang wajib. Maka saya gunakan kesempatan itu untuk terpuruk, merenungi, dan mencari hikmah dari semua ini.. Sebuah musibah bisa jadi sebagai suatu bentuk teguran, namun bisa juga sebagai bentuk ujian..

Sebuah pesan dari seorang sahabat kembali menguatkan saya..

“Seandainya kejadian ini adalah bentuk teguran Allah, semoga lu bisa belajar banyak dari ini. Seandainya kejadian ini untuk menaikan derajat lu di mata Allah sebagai manusia, gw doakan semoga nanti lu bisa berhasil dan bisa menjadi berkah bagi dirilu dan orang2 di sekelilinglu. Seandainya kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Allah ke lu, semoga lu bisa lebih sayang lagi sama DIA ketika ini semua selesai.”

Maka, saya lebih memilih untuk berprasangka baik pada Allah. Mudah-mudahan ini salah satu cara Allah menunjukkan rasa cemburu-Nya. Ditandatanganinya kontrak di atas materai itu dengan sendirinya secara sah saya berhak memperoleh biaya kompensasi sebesar satu bulan gaji untuk pemutusan hubungan kerja tanpa suatu sebab seperti ini. Saya sudah menyampaikan hal ini pada HRD. Pun ketika mereka tidak menunaikan apa yang menjadi hak saya, maka biarkan Allah yang mengkalkulasinya. Apalagi mengingat ini bulan Ramadhan. Darah saya berdesir menyadari hal ini. Perhitungan ini terlalu rumit dan complex untuk otak manusia saya. Bahkan Allah memberikan saya kesempatan untuk menjamu-Nya di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Maka di sinilah ujian yang sesungguhnya. Apakah saya akan tetap terpuruk dengan kehilangan ini? Apakah saya bisa memanfaatkan atau malah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan-Nya? Atau barangkali, apakah saya akan menjadi kikir dan bakhil setelah kehilangan ini? Apakah saya akan menjadi pesimis dan menjadi rendah diri? Pilihan-pilihan itu ada di tangan saya. Saya percaya, Allah telah mempersiapkan ladang-Nya di depan sana untuk saya. Sama seperti ladang ini yang telah dipersiapkan-Nya semenjak tahun kemarin. Jadi, tidak perlu khawatir. Subhanallah.. Walhamdulillah.. Wa Laa ila hailallah.. Allahu Akbar.. Tak sabar rasanya untuk menunggu cuti ini selesai..

Ternyata.. Ikhlas, Sabar, dan Bersyukur nggak semudah mengucapkannya yaa..

Tuesday, August 31, 2010

Sebuah Berita dari Sahabatmu di Indonesia

Assalamu'alaikum sahabatku..


Gw mau cerita. Tapi gw mohon jangan merasa bersedih, apalagi kalau harus sampai menangis. *Walaupun mungkin bisa jadi permintaan gw ini bakalan sia-sia*

Astaghfirullah.. Semoga Allah tidak menggolongkan gw ke dalam golongan manusia yang takabur. Sebab yang gw ingat betul adalah, sekalipun Wicel sudah memberikan kepastian 100% tentang keterimanya gw di perusahaan mereka dan keberangkatan gw ke Makasar, gw tetap beristighfar, dan meralat dalam hati kalau kepastian itu nilainya cuma 98%. Ketika seseorang nanya, apa 2% nya? Dengan mantap gw menjawab, itu hak preogratif Allah.

Entah kenekatan macam apa sampai gw berani mengambil peluang itu. Gw sudah berfikir panjang. Gw pun berdo’a dan minta restu dari nyokab gw. Insya Allah gw mantap dengan pilihan gw. Rasa-rasanya ngga ada yang salah dengan cara gw mengambil keputusan itu. Gw juga ngga tau apa yang gw cari dan gw harapkan bisa gw dapat dari sana. Sederhananya, gw Cuma kepingin seperti air yang menjadi jernih karena mengalir.. Begitu kata syair nya Imam Syafi’I bukan?



Well, tadi pagi gw resmi tanda tangan kontrak sama Wicel. Tadi sore pun gw sempet ngadain buka bersama sama temen-temen kantor gw. Tapi kembali, gw tetap meluruskan niat. Gw pengen ngadain buka bersama sebagai rasa syukur karena sampai saat itu, Allah mengabulkan do'a gw, gw menganggap Allah telah memudahkan jalan gw, karena urusan good bye gw sama Pak Suwarto ngga rumit, resign gw dengan nexwave ngga susah, dan seminar gw alhamdulillah lancar.

Tapi siapa yang menyangka Allah punya kejutan yang lain buat gw. Barusan banget, sekitar jam setengah sebelas malem ketika gw lagi packing, gw inget kalau hape gw mati tadi sore. dan baru gw nyalain. 8 sms masuk dan lima dari delapan itu dari HR nya wicel. gw balas salah satunya. si HR ini langsung telpon gw..

Point-nya. Ternyata telkomsel ngga mau pake gw lagi. Pak Edison sama Jaya ngga mau karena masih inget sama disaster itu. Dan gw pun ngga bisa menuntut apa-apa dari wicel. Sebetulnya ketika itu juga gw bisa menetralisir perasaan gw.. Gw membanjiri kepala gw dengan pelbagai hal positif. Karena gimanapun itu udah jadi kesepakatan gw sama Allah. “Pilihkan aku yang terbaik yaa Rabb...”

Bisa jadi Allah jelous dan ngga mau diduain di Ramadhan kali ini. Otak gw bisa menerima ini semua. Yang gw lakukan pertama kali adalah menulis imel ini ke elu dan mencoba mencari peruntungan lagi di Parakontel. Demi Allah, gw berusaha sangat keras untuk bisa meredam dendam di hati gw. Mencoba ngelupain dan menghilangkan penilaian-penilaian subjektif gw tentang disaster itu. For God shake, that wasn’t my fault, at all. Astaghfirullah, sekali lagi, menilai itu bukan kapasitas gw sebagai manusia. Biar Allah aja yang punya hak untuk menilai. Tapi sekalipun otak gw sudah berevolusi pada garis edarnya lagi, tetap, dada gw sesak dan mata gw panas. Akhirnya, (dan lagi-lagi gw harap ini bukan sekedar ke-GR-annya gw), gw merasa Allah sayang banget sama gw.

Gw ngga bodoh dan tolol dengan keputusan gw kan? Ini semua bener-bener kehendak Allah kan? Ini adalah 2% nya Allah yang sudah gw persiapkan yang pada akhirnya ternyata gw ngga bener-bener siap kan? Gw ngga tolol dengan resign dari nexwave kan? Gw ngga sempit dengan keinginan gw berhijrah kan? Gw tidak ingin menyesal dengan apa yang sudah gw lakukan.. Gw jobless.. Dan gw berusaha keras meyakinkan diri gw, ini bukan akhir dari segalanya..


Semua yang gw butuhkan saat ini adalah do'a dari lu.. Lagi-lagi do'a.. Insya Allah gw ikhlas dan kuat, walaupun itu butuh proses. Promise me, don't cry..

wish u well
wassalamualaikum

Wednesday, August 18, 2010

Menghadapi Orang Tua yang Dzalim


Berikut ini adalah cuplikan-cuplikan artikel yang saya peroleh. Semoga bermanfaat..

Pertanyaan:
Saudara RAM dari Mesir bertanya kepada Syaikh. Setelah salam ia mengungkapkan tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan ayahnya yang bertentangan dengan syariat dan adab-adabnya. Apa yang harus ia lakukan terhadap ayahnya dalam kondisi seperti itu?

Jawaban:

Kami doakan semoga Allah memberikan petunjuk kepada ayah anda dan menganungerahinya taubat. Kami sarankan agar anda bersikap lembut terhadapnya dan menasehatinya dengan cara yang sopan serta tidak putus asa akan kemungkinan men-dapat hidayah, Allah سبحانه و تعالى berfirman,

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." (Luqman: 14-15).

Allah mewasiatkan agar berterima kasih kepada kedua orang tua di samping bersyukur kepadaNya. Allah juga memerintahkan agar sang anak memperlakukan kedua orang tua dengan cara yang baik walaupun mereka memaksanya berbuat kufur terhadap Allah. Berdasarkan ini anda tahu, bahwa yang disyari'atkan bagi anda adalah tetap memperlakukan ayah anda dengan baik, tetap berbuat baik kepadanya walaupun ia bersikap buruk terhadap anda. Terus berusaha mengajaknya kepada al-haq. Kendati demikian, anda tidak boleh mematuhinya dalam hal kemaksiatan. Kami sarankan juga agar anda memohon pertolongan kepada Allah
سبحانه و تعالى agar memberinya petunjuk, di samping itu perlu juga meminta bantuan kepada orang-orang baik dari kalangan kerabat anda, seperti paman-paman anda dan sebagai-nya, terutama orang-orang yang dihormati dan disegani oleh ayah anda. Mudah-mudahan ia mau menerima nasehat mereka. Semoga Allah memberikan petunjuk untuk bertaubat nasuha kepada kami, anda dan ayah anda. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mahadekat.

Sumber:
Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanwwi'ah, juz 5, hal. 354, Syaikh Ibnu Baz. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3, penerbit Darul Haq.

Kategori: Amar Ma'ruf
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Artikel yang lainnya menyebutkan...

Seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat pentingnya masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini perlu dikaji secara khusus.

Jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Seperti tersurat dalam surat al-Israa' ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa' ayat 36:

“Artinya : Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisaa' : 36]

Dalam surat al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir jika mereka mengajak kepada kekafiran:

“Artinya : Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut (29): 8] Lihat juga surat Luqman ayat 14-15.

ANJURAN BERBUAT KEPADA KEDUA ORANG TUA BAIK DAN LARANGAN DURHAKA KEPADA KEDUANYA
Yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan kepada keduanya. Menurut Ibnu ‘Athiyah, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan syari’at), dan harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang (selama tidak melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla).

Sedangkan 'uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap keduanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan berupa perkataan, yaitu mengucapkan “ah” atau “cis”, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci maki dan lain-lain. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar, seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak mempedulikan, tidak bersilaturrahim, atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang miskin.

KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN PAHALANYA
[1]. Merupakan Amal Yang Paling Utama
‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata.

“Artinya : Aku bertanya kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi صلی الله عليه وسلم menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ [2]

[2]. Ridha Allah Bergantung Kepada Ridha Orang Tua
Sesuai hadits Rasulullah صلی الله عليه وسلم, disebutkan:

“Artinya : Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash رضى الله عنهما, bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” [3]

[3]. Berbakti Kepada Orang Tua Dapat Menghilangkan Kesulitan Yang Sedang Dialami
Yaitu, dengan cara bertawassul dengan amal shalih tersebut. Dalilnya adalah hadits riwayat dari Ibnu ‘Umarرضى الله عنهما mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, dan salah seorangnya bertawassul dengan bakti kepada ibu bapaknya.
Haditsnya sebagai berikut:

“Artinya : ...Pada suatu hari tiga orang dari ummat sebelum kalian sedang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka berada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu di antara mereka berkata: ‘Ya Allah, sesung-guhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai isteri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut malam dan aku dapati orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah mulut gua ini.’ Maka batu yang menutupi pintu gua itu pun bergeser sedikit..”[4]

[4]. Akan Diluaskan Rizki Dan Dipanjangkan Umur
Sesuai sabda Nabi صلی الله عليه وسلم

“Artinya : Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan di-panjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyam-bung silaturrahimnya.” [5]

Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak di antara saudara-saudara kita yang sering berkunjung kepada teman-temannya, tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang, bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil, dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apa pun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua, karena dekat kepada keduanya -insya Allah- akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umurnya.

[5]. Akan Dimasukkan Ke Surga Ooleh Allah ‘Azza wa Jalla
Berbuat baik kepada orang tua dan taat kepada keduanya dalam kebaikan merupakan jalan menuju Surga. Sedangkan durhaka kepada orang tua akan mengakibatkan seorang anak tidak masuk Surga. Dan di antara dosa-dosa yang Allah ‘Azza wa Jalla segerakan adzabnya di dunia adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian, jika seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, Allah akan meng-hindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla dan akan dimasukkan ke Surga.

BENTUK-BENTUK DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
[1]. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua, baik berupa perkataan atau pun perbuatan yang mem-buat orang tua sedih atau sakit hati.
[2]. Berkata “ah” atau “cis” dan tidak memenuhi pang-gilan orang tua.
[3]. Membentak atau menghardik orang tua.
[4]. Bakhil atau kikir, tidak mengurus orang tuanya, bahkan lebih mementingkan yang lain daripada mengurus orang tuanya, padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
[5]. Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, “kolot”, dan lain-lain.
[6]. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi, jika si ibu melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri, maka tidaklah mengapa, dan karena itu seorang anak harus berterima kasih dan membantu orang tua.
[7]. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
[8]. Memasukkan kemungkaran ke dalam rumah, misalnya alat musik, mengisap rokok, dan lain-lain.
[9]. Lebih mentaati isteri daripada kedua orang tua. Bahkan ada sebagian orang yang tega mengusir ibunya demi menuruti kemauan isterinya.
Nas-alullaahas salaamah wal ‘aafiyah
[10]. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.

BENTUK-BENTUK BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
[1]. Bergaul bersama keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi صلی الله عليه وسلم disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita

[2]. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan adab ber-bicara antara kepada kedua orang tua dengan ke-pada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.

[3]. Tawadhu’ (rendah hati). Tidak boleh kibr (som-bong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir, kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan, kita diberi makan, minum, dan pakaian oleh orang tua.

[4]. Memberi infaq (shadaqah) kepada kedua orang tua, karena pada hakikatnya semua harta kita adalah milik orang tua. Oleh karena itu berikanlah harta itu kepada kedua orang tua, baik ketika mereka minta ataupun tidak.

[5 ]. Mendo’akan kedua orang tua. Di antaranya dengan do’a berikut:
“Wahai Rabb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.”

Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali kepada Tauhid dan Sunnah. Bagaimana pun, syirik dan bid’ah adalah sebesar-besar kemungkaran, maka kita harus mencegahnya semampu kita dengan dasar ilmu, lemah lembut dan kesabaran. Sambil terus berdo’a siang dan malam agar orang tua kita diberi petunjuk ke jalan yang benar.

APABILA KEDUA ORANG TUA TELAH MENINGGAL
Maka yang harus kita lakukan adalah:
[1]. Meminta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan taubat nashuha (jujur) bila kita pernah berbuat dur-haka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup.
[2]. Menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kubur.
[3]. Selalu memintakan ampunan untuk keduanya.
[4]. Membayarkan hutang-hutangnya.
[5]. Melaksanakan wasiat sesuai dengan syari’at.
[6]. Menyambung silaturrahim kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.

Semoga dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam tersebut, kita dimudahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Aamiin.

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu-bapaknya.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 527), Muslim dalam Kitabul Iman (no. 85), an-Nasa-i (I/292-293), at-Tirmidzi (no. 173), ad-Darimi (I/278), Ahmad (I/351, 409, 410, 439).
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban (no. 2026 al-Mawaarid), at-Tirmidzi (no. 1899), al-Hakim (IV/151-152), ia menshahihkan atas syarat Muslim dan adz-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah mengatakan hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh mereka berdua (al-Hakim dan adz-Dzahabi). Lihat Shahiih Adabul Mufrad (no. 2).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2272), Fathul Baari (IV/449), Muslim (no. 2743), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar رضى الله عنهما.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5985, 5986), Muslim (no. 2557), Abu Dawud (no. 1693), dari Shahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.
Kategori: Birrul Walidain
Sumber: http://www.almanhaj.or.id
Tanggal: Kamis, 24 Mei 2007 14:17:24 WIB

Tuesday, August 17, 2010

Surat Buat Bapak

5 Ramadhan 1431H

Assalamu'alaikum Bapak..

Entah darimana ananda harus memulainya, yang pasti saat ini ananda sedang rindu sekali pada Bapak. Setahun sudah Bapak pergi meninggalkan kami, dua ramadhan sudah Bapak bersemayam di sana seorang diri. Maafkan ananda Pak.. Hanya rangkaian Al Fatihah beriring do'a selepas sujud akhir ananda yang bisa ananda haturkan untuk Bapak. Berharap itu cukup menemani kesendirian Bapak di sana. Tiada putusnya ananda meminta pada Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan Do'a..

Semoga Allah Yang Maha Pengampun berkenan mengampuni dosa-dosa Bapak,
Menerima semua amal ibadah Bapak,
Berkenan melipatgandakan pahalanya dengan segala ke-Maha Pemurahan-Nya,
Melapangkan dan menerangkan kubur Bapak dengan nur-Nya yang benderang..
Menjauhkan siksa kubur bagi Bapak,
Senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya untuk Bapak..
Aamin..

Sungguh betapa do'a dan air mata tak pernah cukup mengobati rasa rindu dan penyesalan ananda. Maafkan ananda yang belum sempat membahagiakan Bapak, maafkan ananda yang sering membuat Bapak kesal dan menahan marah, maafkan ananda yang belum sempat mewujudkan cita-cita kita menjadi nyata, maafkan ananda yang tak pernah cukup kuat untuk tidak menangis setiap kali ananda mengingat Bapak, ananda jadi lebih cengeng sejak Bapak pergi, ananda terbiasa dengan Bapak yang selalu ada menguatkan ananda..
Tahukah Bapak? Sepi sekali rasanya dunia ini tanpa Bapak. Kosong. Tak ada lagi yang tanpa banyak bicara dengan setia mendengar celotehan ananda, tidak protes dengan nyanyian sumbang ananda, cuma Bapak yang punya cerita yang sama sekali tidak lucu tetapi sukses membuat ananda tertawa, Bapaklah tempat biasanya ananda bertanya, Bapak yang selalu bisa memberi garansi 'semua akan baik-baik saja'..
Bapak.. Ananda kangen sekali. Kangen saat ibu bergantian menyuapi kita semua. Kangen bersandar dan mendengar bunyi perut buncit Bapak. Kangen melihat Bapak berjoged india. Kangen salim sama Bapak. Kangen ngesun pipi Bapak. Kangenn.. Kangenn.. Kangeeennnnn...

Banyak sekali hal yang ingin ananda ceritakan pada Bapak..
Tentang Ibu dan adik-adik..
Tentang betapa tegarnya ibu mengasuh kami sendirian tanpa Bapak..
Tentang beliau yang ananda dapati sedang diam-diam merasa kesepian..
Tentang sulitnya menjadi kakak, mengambil alih sebagian tugas Bapak yang tidak lantas menjadi lebih mudah walau hanya sepersepuluh bagiannya saja,
Tentang perasaan-perasaan terbaik,
Tentang bagaimana harus bisa bahagia untuk melihat mereka yang kita cintai turut berbahagia karena melihat kita bahagia,
Tentang lelahnya berlari mengejar waktu, terperangkap dalam ketidaktahuan ananda tentang berapa lama waktu tersisa yang ananda punya..
Tapi Bapak tak perlu gundah,
Ananda tak akan menyerah sekalipun lelah berkali-kali singgah..

Insya Allah ananda ikhlas dengan ini, dengan semua ketetapan Allah, mengimani bahwa inilah jalan terbaik yang dipilihkan-Nya untuk kita.. Mempercayakan Allah untuk menjaga Bapak selagi ananda tak mampu melakukannya.. Semoga kerinduan ini menjadi pengikat kita selamanya.. Sekaligus menjadi cara Allah membimbing ananda untuk dekat dengan-Nya, untuk selalu berserah dan berpasrah..

Sudah malam Pak.. Ananda tak ingin menangis lagi seperti kemarin ketika memulai menulis surat ini. Ibu tampak bertanya-tanya melihat mata ananda yang bengkak sewaktu sahur tadi pagi. Ananda tak mau membuat beliau khawatir lagi.. Sudah dulu yaa..

Wassalamu'alaikum..



Ananda yang selalu kangen sama Bapak
Aizzah

Dilema fulltime house wife.. fulltime mother..

 Bismillah,   menjadi full ibu rumah tangga sebenernya sudah jadi cita-cita jadi jaman baheula selagi masih gadis.. Bahkan mimpi itu pernah ...