Friday, December 17, 2021

Semua Tak Sama

Tidak semua orang memiliki kerangka berpikir yang sama,

Tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama,

Tidak semua orang harus memiliki penilaian yang sama tentang sesuatu,

Tidak semua hal perlu dijelaskan,

Tidak semua hal perlu ditanggapi,

Tentang apa yang orang lain katakan tentang dirimu, dan itu mengganggumu, maka berhentilah sejenak kemudian renungkan..

Thursday, December 9, 2021

Iqob Perdana Ananda


Bismillah, 
Hari ini Ummi dapat pesan gambar dari Abi yang masih berada di Kuttab. langsung nyess rasanya. Baru semalam Hamzah dapat kuliah panjang dari Abi dan Ummi perihal evaluasi adab, loh kok paginya malah kena iqob dari Ustadzah. Astaghfirullah
Ummi kembali merenung, kenapa ya?
Adakah Ummi kurang berdo'a?
Adakah Ummi kurang dalam beramal sholih?
Adakah Ummi kurang dalam bangun malam dan mendirikan shalat?
Atau Ummi terlalu banyak melakukan perbuatan maksiat dan jarang beristighfar?
Astaghfirullah, ampuni dosa-dosa kami yaa Allah

 
Hamzah pulang nanti, insyaa Allah Ummi janji tidak akan ngomel. Ummi mau peluk Hamzah dan minta ma'af saja. Apa yang Hamzah hadapi saat ini, sedikit banyaknya pasti ada peran Ummi di situ.  Ummi akan dengerin kalau Hamzah mau cerita sama Ummi. Hamzah sudah cukup banyak mendapat nasihat hari ini. Dari Abi sudah pasti, dari Ustadzah, dan dari Ustadz Fadlan. Tugas Ummi kali ini hanya menyempurnakannya dengan do'a. Semoga Allah lembutkan hati Hamzah untuk menerima nasihat, Allah mudahkan Hamzah untuk tidak kembali mengulangi pelanggaran adab yang akhir-akhir ini Hamzah lakukan, semoga Allah senantiasa menyayangi Hamzah dan membimbing Hamzah dalam mempelajari ilmu dimanapun Hamzah berada. Amin ya Mujibassailin.

Allohu'alam

 

Friday, July 30, 2021

Hello (again)

 Bismillah,


Tergerak untuk menulis lagi, saya kembali membuka portal ini. Melihat kembali satu demi satu tulisan-tulisan yang pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu.. Receh banget ternyata yaa wanita yang satu ini.. hehe

Maasyaa Allah..waktu bergerak sangat cepat ya.. sekarang saya sudah 33 tahun. Jika mengikuti usia Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam itu artinya kuota hidup saya sudah terpakai separo lebih.  Sisanya mau ngapain nih? Astaghfirullah.. berat ya bund pertanyaannya.. Saya sih berazzam ingin mengoptimalkannya, bermohon pada Allah supaya jauh dari kesia-siaan, sebaliknya memiliki banyak kebermanfaatan. Rasanya sedih, pingin nangis, betapa waktu muda saya banyak dihabiskan dalam hal yang sia-sia. Ya sudahlah yah.. melihat ke depan  saja mulai sekarang


Wednesday, March 18, 2015

Kisah Kelahiran Singa Kecil Ummi

Dari sekian banyak hal yang selalu saya syukuri dengan kehidupan yang saya punya adalah memiliki suami yang luar biasa seperti Abang. Tanpa babibubebo, iya mengiyakan dengan mantap ketika saya mengajukan konsep Gentle Birth untuk kelahiran anak-anak kami kelak. Saya mengajukan niatan saya tanpa menunggu lama, langsung saya utarakan di hari pertama kami menikah. Syarat yang Abang ajukan cuma satu, saya harus punya pengetahuan yang cukup tentang apa yang saya lakukan, bekali diri sebaik mungkin, begitu pesannya. Siapp!! Bodoh rasanya kalau saya sampai menyia-nyiakan kesempatan 'bereksplorasi' dengan hidup, apalagi sudah dapat lampu hijau dari suami.

Gentle Birth adalah konsep ya, bukan metode. Gentle Birth adalah proses melahirkan yang ramah jiwa dan minim trauma. Metodenya bisa apa saja, persalinan normal di rumah maupun rumah sakit, di kasur maupun di air, bahkan untuk kasus SC konsep Gentle Burth pun (sangat) bisa untuk diterapkan. Untuk detailnya, cari tau sendiri ya.. hehe.. Bukan maksud pelit berbagi, sebab salah satu kunci utama untuk bisa menerapkan persalinan secara alami ini adalah Pemberdayaan Diri, gali sedalam-dalamnya, cari tahu sebanyak-banyaknya. Kenapa? Ya karena yang sudah banyak baca dan banyak nyari juga masih banyak yang gagal paham, malah bisa jadi saya juga termasuk di dalamnya.. hehe.. Kalo saya sih, sudah jatuh cinta dengan topik ini jauh sebelum saya menikah, jamanya masih gadis dan suka ngobrol ngalor ngidul sama sahabat saya.

Kemudian terceritalah pada minggu pertama kehamilan, saya punya firasat kuat kalau sebuah janin mulai bertumbuh dalam rahim saya. Entahlah, semesta seperti memberi isyarat kepada saya (azeekk). berturut turut saya melakukan test pack hasilnya selalu satu garis alias negatif. Dari mulai testpack mahal, sampe testpack yang empat ribuan. Kadang perlu juga ya bersikap konyol dengan  hidup, saya beli testpack yang empat ribuan itu dalam jumlah banyak, sekalian beli di pasar obat Pramuka yang kebetulan dekat dengan rumah orang tua biar dapet lebih murah (bener, kena dua ribu satunya *evilsmile*). Saya udah kepedean banget, soalnya yang ditulis di bungkus testpacknya, bisa mengidentifikasi kehamilan setelah dua minggu berhubungan. Halah bokis. Nyatanya saya test sampe sebulan, tetep aja yang nongol satu garis. Tapi entah kenapa saya sangat yakin kalau saya benar-benar hamil. Belum pernah se-deg-deg-an ini nungguin tanggal dateng bulan. Telat sehari, dua hari, tiga hari masih aja satu garis.. Tapi nggak ngaruh, saya tetep optimis dengan senyum yang makin lebar, tetap makan makanan sehat sayur dan protein yang bebas msg, menguatkan iman untuk tidak ngemil dan makan mie instan. Malahan Abang terdengar bosan mendengar cerita kehamilan saya yang dianggapnya belum pasti. Oiya, Abang kerja di luar pulau, pulang sebulan sekali selama sepuluh hari. Sesi curhat saya hanya berlangsung via telpon. Nah, sewaktu si bulan tak kunjung datang lebih dari seminggu, barulah mulai muncul dua garis dengan satunya berwarna merah muda. See!! See!! See!!! Alhamdulillah.. tinggal nunggu Abang pulang dan cek ke dokter buat mastiin.

Dokter pun ga sembarangan dokter saya datengin. Saya cari yang profilnya sesuai dengan keinginan saya yang tentu saja pro Gentle Birth. Alhamdulillah berjodoh dengan dr. Riyana Kadarsari yang praktek di Klinik Permata Bintaro yang terbilang relatif dekat dengan tempat tinggal kami. Seneng bisa ketemu dengan dokter yang sehati. Selama 9 bulan hamil, tercatat saya cuma kontrol 6x dengan beliau, dan di setiap sesi pertemuan, dokter jarang ngasih vitamin kalau memang saya nya nolak. Lebih banyak sesi 'wejangan dan tausyiah' nya kalau sama beliau. Perbanyak makan sayur, olah raga, berbagi tentang filosofi kehamilan. Sekali-kalinya saya rajin minum vitamin cuma pas waktu bulan Ramadhan aja. Alhamdulillah si baby super sekali bisa diajak kerja sama buat puasa sebulan penuh.

Bulan ke lima kehamilan, selepas idul fitri saya resign dari tempat kerja supaya bisa fokus dengan si baby. Saya menghabiskan waktu (tentu saja) dengan memberdayakan diri sampai due date nanti. Saya ke toko buku. Gentle Birth Balance by Bidan Yessie Aprilia dan Hypnobirthing by Ibu Lanny Kuswandi. Bener-bener must have book deh dua buku itu. Lengkapp kapp kapp buat yang pengen kenalan sama Gentle Birth.

yeayy..jump to D-day..

Jum'at 28 November 2014
Abang sudah di Jakarta dan cuti sampai saya melahirkan. Jum'at pagi. Flek coklat. Yeayyy..sudah lampu kuning nih berarti. Dari awal kehamilan memang rencana kepingin melahirkan di rumah, melahirkan di air. Hehe.. setelah browsing-browsing dan tanya sana sini, seorang teman dari group Yoga hamil mengenalkan saya pada Bidan Yulie yang katanya bisa mendampingi proses persalinan di rumah. Saya langsung menghubunginya cepat. Alhamdulillah banget beliau bersedia, padahal dah mepet gini waktunya. Saya kabari beliau kalau saya sudah flek, hasil check up terakhir posisi janin sudah bagus dan masuk panggul, tidak ada indikasi medis apa-apa yang berarti persalinan punya kesempatan untuk dilakukan di rumah.

Sabtu 29 November 2014
Hari ini ngga kemana-mana. Di rumah aja sambil siaga just in case. Bidan Yulie datang hari ini ke rumah buat survey lokasi sekalian periksa dalam. Setibanya beliau, saya langsung diperiksa dalam. Sudah bukaan satu katanya. "Kalau sudah masuk pembukaan mah jangan di rumah aja neng. Banyakin jalan sama goyang inul (goyang pinggul di atas bola gym). Masih 4 hari lagi lah sampai lahiran nanti. Jalan-jalan ke mall dulu aja, nonton atau makan." Wehh.. ajaib ya, mau lahiran malah disuruh jalan-jalan. Saya sama Abang ketawa-ketawa aja.

Maka jadilah malam Minggu itu kami kencan ke Bintaro Plaza. Sempet nonton apa nggak yah.. lupa saya. Kayanya sih cuma makan aja deh..

Minggu 30 November 2014
Pagi-pagi buta kami nge-motor ke tempat mertua. Mau pinjam mobil buat ikutan Yoga sehat bareng temen-temen komunitas Gentle Birth Untuk Semua di Apartment Verde daerah Kuningan, Rasuna Said. Sambil sesekali nyengir 'nikmatin' kontraksi yang masih palsu hehe. Sekali lagi, kadang kita perlu konyol dengan hidup, santai dan ga perlu terlalu serius. Setali tiga uang, si Abang juga rada-rada 'error' kaya saya ( in a possitive way ya pastinya ). Di tengah-tengah ibu-ibu hamil, dengan muka tanpa berdosanya dia nyempil di antara kami, jadi satu-satunya mahluk brewokan yang ikut senam hamil.. hedehh.. I Love you even more Bang.. xoxo



Senin dan Selasa nya lupa agenda kita ngapain. Yang jelas sih ngga jauh dari jalan, jalan, dan jalan.. bantu si baby buka jalan.

Rabu 3 Desember 2014
Sampe hari ini belum ada keluarga yang tahu kalau saya sudah masuk pembukaan. hari ini jadwalnya check up ketemu sama dokter Riyana. Pagi-pagi kami siap-siap buat jalan ke klinik. Sempet rada senewen sih karena baju udah ngga ada yang muat lagi. hedeeehh.. Sampe di klinik, kami kebagian antrian nomer 3. welehh.. ada yang sudah datang lebih pagi ternyata. Penasaran udah pembukaan berapa sekarang sejak Jumat kemarin masuk bukaan satu. Pas sudah gilirannya, ternyata masih bukaan satu lebih dikit kata dokternya. Blah..dikirain bakalan masuk pembukaan tiga atau empat. Ya sudahlah, santai aja. Dokter Riyana rekomendasiin saya untuk tes CTG di ruang sebelah, saya pun diantar sama bidan muda yang sepertinya baru mulai praktek di Klinik Permata Bintaro. Dari awal feeling saya sudah ngga enak sama bidan muda ini, nyiapin peralatan CTG nya aja masih nampak kebirit-birit. Saya dan Abang ditinggal setelah alat terpasang, kami pun fokus menghitung detak jantung si baby setelahnya.

12.00 WIB

Satu jam berlalu, tes CTG selesai. Saya siap-siap turun dari tempat tidur yang mana kemudian.. NYEEESSSSS... tetiba celana dan gamis saya kuyup seketika. Saya pun langsung kembali rebahan di tempat tidur. Saya minta Abang untuk panggil bidan dan dokternya. Ketuban saya pecah, bukan rembes lagi, tapi pecah. KPD alias ketuban pecah dini. Salah satu hal yang paling saya khawatirkan kejadian juga, padahal sudah saya coba eliminasi jauh-jauh hari, tapi alam bawah sadar saya tetep merekam kayanya.

Si bidan muda datang, dia bilang dokter Riyana masih ada pasien. Saya minta tolong sampaikan kalau ketuban saya sudah pecah, tidak lama si bidan datang dan bilang,
"Kata dokter Riyana, Ibu disuruh goyang inul aja di atas bola."
whaatt..ini apa ngga salah instruksi dokternya. Ketuban pecah kok malah disuruh goyang inul. Saya langsung disodori bola gym yang masih kempes dan belum dipompa. Saya agak panik, si Abang juga kelihatan bingung mau ngapain liat saya rada emosi disuruh goyang inul sementara ketuban sudah pecah. Ketika saya baru goyang inul sekitar lima menitan dokter Riyana datang,
"Dok, ini bener saya disuruh goyang inul? Ketuban saya PECAH lohh? Sudah keluar banyak banget dari tadi."
"Loh.. kata bidannya cuma rembes, makanya saya suruh goyang inul. Yaudah ibu rebahan dulu aja di tempat tidur."
Belum apa-apa keadaan klinik udah bikin saya rungsang. Tadinya sih saya ikhlas-ikhlas aja kalau saya memang harus lahir di klinik. Tapi kalau begini kondisinya BIG NO lah. Kami berdua tetap berusaha tenang dan berkepala dingin sambil menunggu dokter Riyana selesai dengan pasien-pasiennya. Saya gempur dengan minum pocarisweat supaya bisa tetap bertahan walaupun ketuban sudah pecah duluan.

Setelah selesai dengan pasiennya, baru lah dokter Riyana menghampiri saya.
"Ibu tidak perlu panik, gentle birth juga bisa dilakukan di kasur. Dalam kasus KPD, water birth sudah tidak bisa dilakukan lagi, karena bayi harus keluar sebelum 24 Jam. Kita observasi dulu ya, kalau setelah 4 jam pembukaannya ngga nambah, nanti kita bisa pertimbangkan untuk infus ya."
Memang sih dr.Riyana pro gentle birth, tapi ya mau bagaimana lagi, beliau pasti terikat dengan cara kerja klinik dan rumah sakit yang tidak mau ambil resiko.

Dalam situasi seperti ini, handphone malah mati dan minim pulsa, lupa bawa charger pula. Saya minta Abang untuk menghubungi Bidan Yulie untuk mencari second opinion. Setelah berhasil dihubungi, Bidan Yulie sedang ada di Bandung. Maaakk.. bener-bener menguji banget di saat harus selalu tenang dalam situasi begini. Setelah menyampaikan kronologis cerita kami, Bidan Yulie pun menyanggupi untuk mendampingi kami melahirkan di rumah jika memang memungkinkan kami bisa discharged dari klinik secepatnya. Air ketuban saya sudah berhenti mengalir, sesekali pipis karena terlalu banyak minum Pocari Sweat. Bismillah Bismillah Bismillah.. Saya harus tetap tenang supaya Abang juga bisa ikut tenang dan tidak terlalu khawatir.

14.00 WIB

"Abang, kalo aizz lahiran di sini, yang megang aiz nanti adalah bidan muda itu, bukan dr.Riyana nya langsung. dr.Riyana akan mantau melalui si bidan. Dari dia salah nyampein informasi tadi aja aizz udah ngga sreg. Ini air ketuban sudah berhenti, kita pulang aja yuk. Toh, bidan Yulie juga menyanggupi kalau kita bisa discharged dari klinik secepatnya. Yuuk!!" Saya coba meyakinkan abang.

Seperti yang sudah-sudah, Abang mengiyakan. Abang mencari si bidan untuk menyampaikan maksud kami ingin pulang. dr.Riyana sedang makan siang di luar, jadilah kami berkomunikasi melalui telepon selular untuk minta persetujuan discharged.

"Siapa yang tanggung jawab nanti kalau kalian pulang?"
"Kami sudah ngontak bidan Yulie dok, beliau menyanggupi untuk mendampingi persalinan di rumah." Kata Abang
"Tapi sudah dipastikan bisa datang?"
"Iya dok bisa."
"Oh yasudah kalau begitu. Bilang bidan saja kalau saya sudah setuju kalian pulang."

Hahaha..senangnya punya dokter yang sama rock 'n roll nya kaya kami. Nggak rebet. Setelah mengurus biaya kontrol dan tes CTG tadi kami pun bersiap pulang. Karena taksi yang ditunggu pun tak kunjung datang, saya dan Abang nekat nge-motor sampe rumah. Gamis sudah lusuh basah kuyup ga jelas bentuknya. Banjir neeeng?? hehe

15.00 WIB

Sampe di rumah saya langsung ganti baju dan rebahan di tempat tidur. 'Gelombang Cinta' datang semakin intens dengan ritme yang teratur. Abang juga terlihat lebih relaks sesampainya di rumah. Bersih-bersih, sholat, dan makan siang sambil nonton TV. Whaaatt?? Pake nagkringin kaki segala lagi.. Bang..bang..istrinya mau ngelahirin noh Bang!! hehehe

Di Bandung sana, bidan Yulie langsung meluncur ke tempat kami.

16.00 WIB
"Bang, ini aiz masih kena wajib sholat ngga sih kalau udah ketuban pecah gini?!"
"Kurang paham juga Abang, shalat aja lah kalau masih ketahan sakitnya, sambil duduk aja shalatnya. Kalau udah keluar darah baru deh ngga perlu shalat."
Karena belum dzuhur pas tadi siang di klinik, saya pun menjamak shalat dzuhur dan ashar. Bismillah semoga Allah masih nerima.

Selesai shalat saya mondar mandir aja di dalem rumah, sesekali duduk di atas gymball sambil menikmati gelombang cinta yang semakin intens. Subhanallah..nikmat bener rasanya. Balik lagi ke kamar, rebahan, tidur kalau lagi bisa, ngumpulin energi lah pokoknya. Saya mengalami distorsi waktu setelah sore itu, waktu seperti cepat sekali berlalu. Tetau sudah jam delapan malam dan Bidan Yulie pun sudah sampai rumah. Alhamdulillah, jadi lebih tenang.

20.30 WIB
Bidan Yulie langsung melakukan periksa dalam, sudah pembukaan lima katanya. Alhamdulillah.. Prediksinya sekitar jam 2 nanti kemungkinan bisa lahir. Saya kembali ke ruang tamu ngumpul sama yang lain. Masih sempet ketawa ketiwi alih alih kontraksi. Bidan Yulie menyiapkan bathtub buat saya berendem. Setelah kamar mandi dan bathtub steril, dan terisi air, saya dipersilakan masuk untuk mulai berendam. Wuihh..enak banget rasanya berendem air hangat. Relaks banget rasanya. Entah sudah berapa lama saya di air. Gelombang cinta seperti datang tanpa jeda, sekitar 5 - 10 detik lah jedanya. Rasanya mules seperti (maaf) mau pup, nikmat bangeuutt. Saya melolong bak harimau tiap gelombang cinta datang. Ah peduli apa, wong paling nyaman (versi) saya nya begitu kok. Bidan Yulie sama suami selalu ngingetin buat ambil nafas perut. Yang saya ingat, rasanya kok yah sayup-sayup ngantuk gitu ya

23.00 WIB
Bidan Yulie mengajak saya keluar dari air sebentar untuk periksa dalam. Saya pun nurut-nurut aja.
"Wahh..kepalanya sudah kelihatan tuh Pak, mau liat ndak?" Bidan Yulie mengajak suami saya ikut melihat, "Rambutnya sedikit..hehe.. balik ke air lagi yuk.. kita ajak keluar dedenya."
Saya pun kembali berendam di air. Sebenarnya sih cita-cita saya pengennya melahirkan tanpa mengejan. Tapi ya karena ketuban sudah pecah duluan, kepala bayi juga sudah kelihatan, bidan Yulie juga menyarankan untuk mengejan, ya saya coba mengikuti arahan bidan untuk mengejan. Beberapa kali nyoba, cara ngedennya masih salah. Saya berusaha fokus dan mengajak berkomunikasi si dede supaya mau diajak bekerja sama
"Bantu Ummi yuk dek.. Ummi sudah kangen sekali pengen liat dede. Yuk yuuk..". Saya juga minta Abang untuk membacakan surat Al Insyirah untuk menguatkan saya.
Bismillah.. saya mencoba mengejan lagi kali ini.. "Laa ilahaillah.. Laa ilahaillah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.." Saya ingat betul lafaz tauhid itu yang juga menguatkan saya. Hepppp.. Kepala bayi sudah sebagian keluar, kemudian saya mengejan lagi.. Alhamdulillah.. Si baby meluncur di air ditangkap oleh Bidan Yulie. 

03 Desember 2014 - 23.45 WIB
Hamzah, Singa kecil Ummi pun lahir ke dunia ini. Lega sekali rasanyaa. Bidan Yulie langsung menyerahkan Hamzah ke saya. Hamzah cuma Oeek sebentar pas diangkat dari air, gak sampai 10 detik nangisnya, langsung diam pas saya dekap di dada saya.. Alhamdulillah..
"Assalamualaikum dek.. ini Ummi.." Saya pun melanjutkan dengan membisikkan dua kalimat syahadat.. Maha Suci Allah.. Alhamdulillah.. Kesampean sudah cita-cita saya untuk punya moment seperti itu saat melahirkan Hamzah.

Pas diperhatiin, kepala Hamzah rada penjol di samping kanannya, sepertinya posisi di panggul tadi kurang proper, makanya mentog ga nongol-nongol dan mesti Ummi bantu dengan mengejan. ya sudahlah, memang sudah jalannya seperti itu, terpenting mah Hamzah sehat, lengkap, normal ngga kurang suatu apa pun.

Kami beranjak pindah ke tempat tidur, lanjut IMD sambil periksa dalam lagi oleh Bidan Yulie. Pernium robek grade tiga. Weeekkss.. Pas di air tadi kayanya ga berasa apa-apa kok pas Hamzah nongol. Jujur sih, dua hal yang paling saya takuti dalam kehamilan ini adalah KPD dan Perineum robek. Kayanya memang secara ga sadar malah jadi seperti sugesti di alam bawah sadar saya, latihan hypnobirthing nya kurang tekun & kurang serius sih.. gak apa-apa. Untuk ukuran pengalaman pertama, insya Allah ini adalah cara terbaik yang bisa Ummi dan Abi persembahkan buat Hamzah. Tidak sepenuhnya sesuai rencana, tapi bukan berarti juga gagal total. Toh harus kita yakini kalau ketetapan Allah itu pasti jauh lebih indah.

Selamat datang Singa Kecil Ummi Sayang.. Hamzah El-Fath Pulungan. BB 3350gr Panjang 49 cm.

(hmm..sedikit cerita, ternyata Bidan Yulie nya bohong waktu bilang saya sudah masuk bukaan lima, padahal actualnya saya sudah masuk bukaan tujuh. hedehhh.. katanya biar ga terlalu ngarep si baby cepat-cepat keluar. Dan ternyata juga, Bidan Yulie dan dr.Riyana itu udah temenan baik. Bidan Yulie sempetin BBM ke dr.Riyana nanya tentang kodisi saya sebelum diestafet, "Gimana dok pasien yang KPD tadi siang?" "Aman", Begitu katanya.. hehe)

Oiya, kami juga memutuskan untuk melakukan Lotus Birth, tidak memotong tali pusat bayi seketika dia lahir. Tapi sayangnya hanya berlangsung dua hari karena kakek nya senewen ngeliat hal yang (menurut beliau) tidak umum. Yasudahlah, di hari ketiga, kami memotong tali pusat Hamzah dengan membakarnya menggunakan lilin, untuk menghindari infeksi, membakar jauh lebih aman katanya.



Sekarang usia Hamzah sudah mau masuk 4 bulan, BB nya sudah di atas 7 kilo, sudah banyak cooing, kepala sudah tegak, sudah mulai miring-miring mau tengkurap. Hamzah sehat dan aktif luar biasa. Nangis cuma pas haus, ngantuk, sama pipis kalau lagi pakai popok kain.

Kalau kata Om nya, "Hamzah cool banget yah anak nya.. Jarang kedengeran nangis."
Kalau kata neneknya, "Hamzah anteng yah, ngga cengeng."
Kalau kata 'mbak' yang bantuin di rumah, "Si dede kaya orang gede yah, kalau diajak ngomong suka merhatiin & kayak yang ngedengerin orang yang lagi ngajakin dia ngomong."

Itu orang lain yang bilang loh, mudah-mudahan sih objektif yah.. kalau buat Ummi Abi mah Hamzah kece ngga ada duanya..hehe


Setelah empat bulan, bisa juga akhirnya nyuri-nyuri waktu buat nulis ini pas Hamzah bobo. Semoga bisa menginspirasi ya.. Alhamdulillah

Terima kasih Abang.. Terima kasih keluarga besar.. Terima kasih dr.Riyana.. Terima kasih budeh Bidan Yulie.. Terima kasih teman-teman yoga hamil.. Terima kasih teman-teman komunitas GBUS.. Terima kasih semesta untuk sebuah kerja sama yang luar biasa..

Terima kasih Allah telah mengizinkan, membukakan jalan, memudahkan, dan menyempurnakan segala sesuatunya. Laa haula wa laa quwwata illabillah.. *senyum*


Sunday, November 17, 2013

Words can change the world :)

Bang Endar. Seorang pengamen jalanan yang saya temui 2004 lalu pernah hterlibat percakapan singkat dengan saya di sebuah bus Patas AC,

Bang Endar: "Hey Aizz..kok kamu ga pake jilbab kaya si Maya sih?" (Maya adalah teman yang selalu pulang sekolah bersama saya)
Saya : *nyengir* "Saya perbaiki diri saya dulu lah, solat masih belum bener, kelakuan, omongan.. nanti lagi lah bang. tunggu siap. masih banyak PR. hehe"
Bang Endar: *Masih sibuk nyetel gitarnya* "Yah izz.. Justru kalo pake jilbab tuh kalo mau apa-apa kita jadi mikir. Mau ninggalin solat, oiya kan gw pake jilbab. Mau ngomong kasar, oiya gw kan pake jilbab. Mau 'macem-macem', kan gw pake jilbab"
Saya : DEG

Bapak Abdul Madjid. Pembimbing lapangan saat prakerin di Indosat tahun 2005. Sambil narik kabel di ruangan MSC, saya ngobrol dengan beliau.

Pak Madjid : "Orang tua mu kerja apa izz?"
Saya : "Orang tua saya biasa aja pak, cuman guru, kecil gajinya.. hehehe "
Pak Madjid : "Ehh jangan salah lohh.. Justru jadi guru itu pahalanya ngalir terus lohh sekalipun kitanya udah meninggal"
Saya: DEG (spenuh hati mengamini)

Damir Hasan. PM saya sewaktu bekerja di salah satu subcon di Jakarta.
Seperti biasa, alih-alih bekerja, saya seneng bersenandung atau nyanyi-nyanyi kecil di sebelah beliah.
Pak Damir: "Aizzah.. suaranya bagus yah.."
Saya : " Makasih pak.. biasa aja ah.." *cengengesan GR
Pak Damir: *masih sibuk dengan laptopnya melanjutkan* "Apalagi kalo dipakai ngaji."
Saya: DEG

Tiga cerita di atas adalah cerita-cerita sederhana yang biasa saja sebetulnya. Hanya saja, entah bagaimana, cerita-cerita itu melekat dengan baik dalam kepala saya. and someway.. I feel like I am working hard to reach those points. #randomstories 

words can change the world. choose wisely !
I<3 font="" monday="">

Thursday, October 10, 2013

No Tidak, Don't Jangan !!

“Jangan lari!”
“Jangan kesitu!!”
“Jangan nangis!!”
“Nggak boleh ngomong begitu!”

Jangan begini, jangan begitu, tidak boleh ini, tidak boleh itu dan masih banyak lagi jangan-jangan dan tidak-tidak yang sering saya dengar di lingkungan tempat tinggal saya. Biasanya kalimat-kalimat larangan itu terlontar dari mulut ibu-ibu kepada balita mereka. 

Beberapa tahun yang lalu saya tidak merasa terganggu dengan kalimat-kalimat itu. Sampai pada kesempatan saya menghadiri sebuah workshop parenting, saya baru mengerti bahwa kalimat yang biasa saya dengar sehari-hari dan saya anggap lumrah itu ternyata sangat berbahaya. Dari situlah kepedulian saya terhadap perkembangan balita mulai bertumbuh. 

“Berhenti menggunakan kata ‘tidak’ dan ‘jangan’!” 

Demikian Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, direktur Auladi Parenting School atau saya lebih senang memanggil beliau dengan sebutan Abah Ican yang ketika itu menjadi narasumber berpesan. 

Pesan itu melekat di otak saya dengan baik. Secara bahasa, kata ‘tidak’ memang menunjukkan bentuk kalimat negatif bukan? Begitu pula jika kita terapkan hal itu terhadap anak. Apalagi jika kita mau mempelajari lebih dalam lagi, bahwa sesungguhnya kemampuan otak manusia pada usia anak-anak adalah masa – masa emas, dimana mereka mampu mengingat bahkan meniru apa yang mereka lihat dan dengar dengan sangat baik. Pada usia-usia inilah karakter dan kepribadian seorang anak bisa kita bentuk ke arah yang positif. Maka dari itu, di usia dimana anak memiliki keingintahuan yang besar amat saya sayangkan jika kita membatasi perkembangannya dengan kata-kata ‘tidak’ ataupun ‘jangan’. Banyak kata-kata padanan pengganti lain yang bisa kita gunakan. Walaupun berdasarkan perspektif kita kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ itu dimaksudkan untuk tujuan yang baik, kurang tepat rasanya jika melulu digunakan kepada anak-anak. Pilihlah kalimat dengan maksud yang sama namun dengan pemilihan kata yang lebih positif dengan nilai rasa yang lebih baik dan hangat.

Lantas, bagaimana kemudian saya menerapkannya? Saya belum menikah dan mempunyai anak. Referensi belajar saya pun terbatas. Well, no excuse!!  

Saya jadi mulai tertarik untuk mendalami tentang bagaimana memaksimalkan potensi anak pada periode perkembangan di masa-masa emasnya ini. Beruntung, saya mempunyai hubungan yang cukup baik dengan tetangga di sekitar tempat saya yang memiliki balita. Saya membandingkan respon anak saat dilarang dengan kata ‘tidak’ dan ‘jangan’ dengan kalimat padanan yang saya coba temukan sendiri. Berikut ini adalah perbandingan sederhana yang saya coba terapkan di lingkungan tenpat tinggal saya.

Dira dan Sri Mulyani adalah balita berusia dua tahun. Suka sekali berlari, berceloteh, dan bermain dengan hal-hal yang baru di sekitar mereka. Sri Mulyani adalah anak yang sering dititipkan ke saya dan hubungan kami terbilang cukup dekat. Oleh mamanya, Dira selalu dilarang berlari, 

“Jangan lari!” 

Dan apa berikutnya yang dilakukan Dira? Yap, dia justru semakin kencang berlari. Terjatuh dan menangis dengan kencang. Anda tahu apa yang dikatakan mamanya?

“Mama bilang juga apa? Udah jangan nangis!”

Dira justru menangis semakin kencang.

Saya mencoba untuk menggunakan perlakuan yang berbeda kepada Sri Mulyani. Ketika dia berlari, saya mengawasinya, sampai waktunya dia terjatuh, saya lantas menghampirinya, membantunya berdiri dan berdialog ringan dengannya,

“Sakit? Mana yang sakit?” Sri Mulyani dengan muka seperti ingin menangis menunjukkan lututnya. Saya usap sambil menasehatinya,
“Lain kali kalau lari harus hati-ha?”
“ti..” ia melanjutkan kalimat saya dengan suara cadelnya. 

Sambil menggandengnya pulang saya terus mengulang kalimat, “Kalau jalan pelan-pelan, kalau lari hati-hati.” Saya percaya, apa yang saya lakukan lebih memberi nilai positif pada Sri Mulyani. Tidak diperbolehkan menangis sama saja membatasi anak untuk mengeksplorasi perasaannya. Menangis itu adalah cara seorang anak belajar menunjukkan perasaannya. Jadi tidak apa-apa. 

Cerita lain, ketika Sri Mulyani melihat gunting tergeletak. Benar saja, dia mengambilnya dan kebingungan sendiri bagaimana menggunakannya. Mungkin beberapa Ibu akan serta merta melarang anak memegang gunting dan menyuruhnya segera meletakkan gunting itu. Tapi saya penasaran, apa jadinya kalau saya biarkan. Saya mendekatinya,
“Itu apa dek?”
Ia melihat saya, kebingungan menamai benda di tangannya.
“itu gun?”
“ting..” ia melanjutkan. 

Kemudian saya mengambil gunting dari tangannya dan mengambil kertas dari majalah. “sini liat mbak, begini cara pakainya..” Saya menuntunnya menggunakan gunting, kemudian saya serahkan padanya untuk melanjutkan. Saya mendampinginya. Luar biasa sekali hasilnya. Lima lembar kertas majalah sukses menjadi serpihan kertas oleh Sri Mulyani. Sampai saatnya ia bosan sendiri, ia kemudian meletakkan gunting dan menghampiri saya yang berada tidak jauh darinya. 

“Udah? Bosan?” ia mengangguk.
“Yuk sekarang kita rapihkan sampahnya.”

Saya hanya menemaninya memulai memunguti sampah bekas ia main gunting, 80% ia sendiri yang menyelesaikannya. Saya bangga, saya senang. Anak-anak tidak selamanya monster cilik yang harus selalu disikapi dengan ancaman dan intimidasi. Mereka adalah mahluk luar biasa yang butuh diarahkan dengan kesabaran, ketelatenan, dan pengawasan yang baik. Anak-anak adalah manusia kecil yang mudah sekali dialihkan perhatiannya. Selagi kita belum menemukan padanan kata pengganti ‘tidak’ atau ‘jangan’, pilihan lain yang bisa kita ambil adalah mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang lain.



Bertumbuh dengan lingkungan yang positif, dalam sebaik-baiknya batasan yang bisa kita upayakan, semoga saja anak-anak kita kelak bisa menjadi pribadi inspiratif yang mampu mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Amin

Ayo bunda, mari kita sama-sama belajar dan memperkaya diri dengan ilmu.. salam 



Dilema fulltime house wife.. fulltime mother..

 Bismillah,   menjadi full ibu rumah tangga sebenernya sudah jadi cita-cita jadi jaman baheula selagi masih gadis.. Bahkan mimpi itu pernah ...